Showing posts with label Fiksi Mini. Show all posts
Showing posts with label Fiksi Mini. Show all posts

Friday, April 17, 2015

Semacam Gangguan Kecil pada Otak Penderita Megalomania






INSOMNIA

Sudah berhari-hari tiap malam kau tidak bisa tidur. Selalu terjaga karena merasa diawasi oleh sesuatu yang entah apa.

Malam ini, kau memergoki seekor ular sedang merayap di kolong tempat tidur. Tanpa ragu kau segera menghajarnya dengan popor senapan. Tak berapa lama, dari kamar sebelah, istrimu menjerit menghampiri dengan kepala berlumuran darah.

PERMAINAN ANAK-ANAK
Adikku sangat payah bermain petak umpet, maka aku membantunya untuk mencari tempat persembunyian yang paling baik.
Dan tampaknya usahaku telah berhasil, adikku baru berhasil ditemukan dua hari kemudian, dalam keadaan mengambang di Sungai Brantas.

PEMAKAMAN YANG GANJIL
Tak pernah ada yang tahu bagaimana mayat itu bisa menghilang dari liang lahatnya, semua orang heran. Dalam kuburannya hanya ditemukan secarik kertas; "Asuransimu sudah cair!"

DEATH NOTE. 
"Ajarkan aku bagaimana cara menuliskan namamu." Tapi ketika aku telah benar-benar bisa menuliskan namamu, kau malah pergi meninggalkanku.

CARA MUDAH MEMBUNUH PENYAIR. 
Kusembunyikan kertas dan pulpennya. Tak berapa lama, sajak-sajaknya menyembul dari otak lalu mencekiknya hingga tewas.

BAYI AJAIB.
Ketika aku sedang membisikkan azan ke telinga bayiku yang baru lahir, ia berteriak, "Salah makhrojnya!" sambil menyuruhku untuk mengulangi lagi.

Thursday, April 16, 2015

Cincin Berlian


Warsinah mencoba mengingat-ingat berapa kisaran harga benda itu. Kurang lebih sekitar tiga juta, pikirnya. Ya, memang sebulan lalu, majikannya pernah mengajaknya pergi ke sebuah toko perhiasan di salah satu pusat perbelanjaan. Dan, ia benar-benar masih ingat betul, kalau cincin itu terbuat dari emas asli yang bertakhtakan berlian di atasnya.
Ia pandangi dengan teliti setiap lekuk permukaannya, seolah cincin itu adalah tubuh suaminya yang sedang tidak mengenakan sehelai busana. Berlian itu berkilat-kilat, seperti sepasang mata yang menggoda dan sedang mengajaknya bercinta. Sambil sesekali menelan liurnya, ia kembali berpikir. Bagaimana mungkin majikannya bisa begitu cerobohnya, menaruh sembarangan cincin seharga setara tiga kali lipat gajinya?
Warsinah mulai memikirkan masak-masak, bagaimana kalau ia curi saja cincin itu? Lumayan, uangnya bisa buat beli kipas angin yang sudah sejak dua hari lalu rusak. Sisanya, tentu bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi, angannya mulai membayang wajah majikannya bila ia ketahuan mencuri.
Mukanya akan merah padam, tangannya mengepal mencoba melepas murka.
“Kupecat kau!”
Jika kata itu yang keluar, sungguh masih mending. Bagaimana kalau ia akan dilaporkan polisi? Ia akan diringkus dan digelandang ke dalam penjara, seperti seorang nenek bernama Asiyani, yang pernah ia lihat di televisi.
Setelah bergulat lama dengan bisikan iblis dan malaikat yang ada di kepalanya. Warsinah pun akhirnya memberanikan diri, ia sambar cincin yang tergeletak di meja itu, tak ubahnya pencopet kawakan yang kerap beroperasi di Tanah Abang. Lalu, disembunyikan cincin itu dalam saku baju depannya. Ia segera berlari menuju dapur, melanjutkan kembali kegiatan memasaknya, seolah tak ada apa-apa.
Kemudian terdengar teriakan panjang dari arah entah, sedang memanggil namanya. Ia gemetar. Lidahnya keluh. Tubuhnya mematung kaku. Lama ia tidak meresponnya, hingga kemudian terdengar suara pintu dapur yang dibuka.
“Waarsinaaah…!”
Warsinah kaget, tubuhnya refleks menjorok ke depan hingga membuat cincin itu jatuh ke dalam wajan masakannya.
“Kenapa dipanggil gak nyahut sih?”
Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Tubuhnya lunglai, kata-kata pecat maupun bayangan penjara telah menyembul dari otaknya. Karena terlalu panik, ia kemudian pingsan dalam dekapan majikannya.
“Apa sudah seharian ini dia belum makan ya?” Majikannya menatap wajah Warsinah heran. Sementara dari arah luar rumah, terdengar tangisan anak perempuannya.
“Ma…! Cincin mainanku ilang…!”

Saturday, April 4, 2015

#TantanganGFMFF: Kematian Kakek dan Hikayat Secangkir Teh Tubruk


   “Sebelum memutuskan sesuatu, tenangkanlah pikiranmu dengan minum teh tubruk terlebih dahulu,” kata Kakek pada sebuah sore setelah kami mengaji bersama di surau. “Presiden kita contohnya, pasti ia tak pernah merasakan ketenangan dari meminum teh tubruk. Hingga keputusannya terkesan grusa-grusu dan mudah berubah, seperti soal kenaikan BBM. ”

               Aku tak pernah tahu soal politik, tapi yang kutahu; Kakek adalah seorang aktivis humanis yang religius.   Berkali-kali kulihat Kakek ikut berunjuk rasa bersama warga yang lain memprotes kebijakan yang meresahkan. Dan sebagai seorang aktivis, suara Kakek begitu lantang—menyuarakan ketidak-adilan—hingga sangat disegani para petinggi dan sering berhasil menggagalkan berlakunya kebijakan-kebijakan yang menyimpang.

              Namun,  dua hari yang lalu, Kakek wafat. Penyakit jantungnya kambuh saat Kakek ikut turun aksi untuk memprotes kebijakan presiden soal pembatalan hukuman mati terpidana narkoba. Ribuan orang datang ke pemakaman Kakek. Beliau dikebumikan di pemakaman yang ada di kampung kami.

                  Semua orang berduka, tapi selalu saja ada segelintir orang yang tertawa.

                 Hari ini, tepat dua hari setelah Kakek meninggal. Pak Presiden kembali datang ke kampung kami, dan mengatakan akan menggusur makam untuk dijadikan jalan tol.


            Segera aku merangsek mencoba mendekat padanya, dan mencoba menyiramnya dengan secangkir teh tubruk yang mendidih. 

                  Semoga Pak Presiden bisa merasakan ketenangan seperti yang dirasakan Kakek... (*)

*200 kata
Menjawab tantangan Mbak ChocoVanilla
Tema; Teh Tubruk
Genre; Satire

Saturday, February 21, 2015

Jangan Bakar Buku








CEMBURU ITU PELURU.

Setiap kali ia merampok, kekasihnya selalu diajak agar ia tak pernah kehabisan amunisi.

BUKAN UNTUK DIBACA.

Setiap orang yang melihat lekas-lekas mencongkel kedua bola matanya.

JATUH CINTA ADALAH CARA TERBAIK UNTUK BUNUH DIRI.

Sedang terbaik kedua adalah menjadi ketua KPK.

CATATAN HATI SEORANG ISTRI. 

Didalamnya hanya terdapat catatan harga-harga sembako dan kosmetik.

KARTU POS DARI SURGA. 

Anakku yang sholeh mengirimkan sebuah mahkota dari berlian serta sertifikat rumah di sana.

CIUMAN YANG MENYELAMATKAN DARI KESEDIHAN.

Beberapa jam setelah dinyatakan meninggal, kau bangkit lagi seraya menciumku.

REMBULAN TENGGELAM DI WAJAHMU. 

Ketika aku hendak menyelamatkannya, aku malah ikut tenggelam dalam kesedihanmu.

Wednesday, February 18, 2015

Curhatan Seorang Pecundang








Aku merasa sangat kesepian hari ini, maka aku akan sangat bahagia apabila kamu mau mendengarkan ceritaku sebentar saja. Dalam daftar temanku, mungkin hanya kamulah temanku yang selalu bisa menjadi pendengar yang baik.

Maka akan kuceritakan kepadamu sebuah kisah yang kualami tadi pagi.

Kepalaku penat. Sudah lima jam lebih aku berkutat di Laboratorium Antropologi Ragawi untuk sebuah hal yang tidak bisa kuceritakan padamu. Maka aku memutuskan keluar sejenak, mencari makanan kecil untuk mengganjal perut sekalian menghirup udara segar.

Beberapa langkah setelah keluar kampus, aku melihat seorang wanita berdiri di ujung jembatan penyeberangan. Tatapannya kosong. Tangannya merentang seperti adegan yang ada di film Titanic. 

Ah, di zaman sekarang, rupanya masih ada orang yang masih berkelakuan norak meniru gaya di film itu, batinku. Hingga kemudian entah dengan alasan apa ia menyunggingkan senyuman. Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya? Ia meloncat dari ketinggian beberapa meter, tubuhnya meluncur deras ke bawah seperti rudal yang hendak menghunjam daratan. Darahnya muncrat mengotori bajuku. Tapi belum berhenti di situ, kemudian datang dari arah sebailknya truk kontainer dengan muatan ber ton-ton melaju begitu kencang menghajarnya. Lehernya tergilas hingga kepalanya copot lalu menggelinding tepat di kakiku.

Tak berapa lama jasad itu dikerubungi banyak orang. Aku lalu pergi meninggalkan tempat kejadian, betapa sedihnya aku tidak bisa menyelamatkan wanita itu. Sepanjang jalan aku merutuki diriku sendiri yang merasa seperti seorang pecundang.

Sekitar beberapa meter aku melangkah, tepatnya di sebuah gedung rumah sakit, Aku melihat lagi seorang wanita berdiri di depan jendela. Tatapannya kosong. Tangannya merentang seperti adegan yang ada pada film Titanic. Kau pasti bisa menerka apa yang selanjutnya terjadi. Wanita itu melompat dari lantai dua puluh. Melihat hal tersebut aku segera berlari mencoba menangkap tubuhnya yang meluncur deras hendak menghunjam daratan. 

Namun aku gagal menyelamatkannya. Kepalanya tercerabut sehabis menghantam pagar rumah sakit. Dan tubuhnya terempas di trotoar jalanan hingga darahnya tercecer. Aku kembali bergidik melihat kepalanya menggelinding di antara kedua kakiku.

Tak lama kemudian jasad itu dikerubungi banyak orang, mereka membopong dan membawanya masuk kembali ke rumah sakit.

Aku berlalu dengan perasaan sangat sedih, hari ini sudah dua kali aku gagal menyelamatkan hidup dua wanita. Ingatanku kembali melayang ke beberapa tahun lalu, betapa sifat kepecundanganku telah merenggut nyawaku sendiri. Saat itu aku yang merasa putus asa karena suatu hal yang tidak bisa kuceritakan padamu, memutuskan untuk mengakhiri hidup. Aku meloncat dari lantai tiga kampus hingga tubuhku jatuh berdebum menghunjam daratan. Darah bersemburatan dari tubuhku, sedang kepalaku lepas mengglinding setelah menghantam gasebo yang ada di bawah. Sampai kemudian aku berakhir menjadi kadaver seperti yang kau ketahui sekarang.

Untukmu yang telah rela menghabiskan waktu untuk mendengarkan ceritaku aku mengucapkan terima kasih. Pesanku hanya satu untukmu: Jangan jadi pecundang!

Aku gemetar mendengar curhatan seorang pria yang duduk di depan Laboratorium Antropologi Ragawi. Aku yang ketakutan langsung menghambur menuju lantai tiga ruangan ini. Ketika hendak memijakkan kaki ke anak tangga terakhir menuju lantai tiga. Aku terpeleset, tentunya kau pasti bisa menerka apa yang terjadi selanjutnya... .

Monday, February 16, 2015

Persimpangan Moral


BARU PUTUS. 

Dalam hatinya terjadi hujan badai mengerikan, semua mikrobakteri mengungsi ke kepalanya.

MENGUNGSI

"Istriku tidak bisa ngurus anak, maka izinkan calon anak-anakku mengungsi di rahimmu," tukasku kepada selingkuhanku. Satu per satu calon anakku mulai berenang menuju rahimnya.

OBAT ANTI SERANGGA

Aku memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyianku, karena sudah seharian ini mulut kekasihku tak lagi mengeluarkan berbagai macam serangga. Kemarin aku telah memaksanya meminum obat anti serangga.

PENGUNGSI

Kesal berhari-hari banjir tak surut. Para pengungsi berinisiatif mengirimkan banjir ke kota lain via instagram.

PENITIPAN KEPERAWANAN

Menjelang Hari Valentine, para wanita ramai menitipkan rahimnya di Tempat Penitipan Keperawanan. Kulihat hari ini banyak wanita berjalan-jalan dengan perut bolong. 

Wednesday, February 11, 2015

#FFRabu - Wanita yang Ingin Goyang Dribble





“Jadi mau pasang di mana, Mbak?”

“Situ kan dukun? Kok pake tanya-tanya segala, baca pikiran dong!”

“Maaf, mbak.”

“Mbak gundulmu atos! Panggil Nyonya… .”

“Baik, Nyonya.”

Nyonya Kenthir maksudmu?

“Eh, ngatain, yah?”

“Enggak kok, Mbak, eh… maksud saya Nyonya.”

“Pasang di payudara ya, Pak Dukun.”

“Wah, ini suaminya yang nyuruh ya. Mbak?”

“Mbak mbok mbak mbok…, Nyonya!”

“Iya maaf, Nyonya. Ini saya pasang pake bahan dari emas, yah Nyonya. Biar lebih tahan lama gedenya.”

“Bodoh amat, buruan!”

Ih, ini emak-emak nyerocos aja, ya. 

“Eh, ini bibirku kenapa?”

Ha-ha! Itu hukuman untuk wanita yang cerewet. Kulihat bibirnya berguncang seperti sedang goyang dribble.

100 kata

Saturday, January 31, 2015

Maria dan Martin






M A R I A
Leichten Herzens


"Pace, Mace, sa tra mo! Sa takut. Kata wanita-wanita di sana, itu sangat sakit, Pace, Mace!"

Maria berteriak. Ia menangis sambil berlari menuju tepi laut. Sedang mulutnya tetap mengunyah sirih yang sudah halus sedari tadi.

"Sa mo temui Martin. Sa mo bercerita. Pace, Mace, tra mau menolong sa. Martin pasti ada di laut itu."

Rok jerami yang dipakainya ikut berlarian ke sana ke mari, layaknya pikiran Maria.

Keputusan untuk menikahkannya memang baru diketahui Maria beberapa saat yang lalu. Maria pergi menemui saudara kembarnya, Martin. Ia tak tahu lagi harus mengatakannya pada siapa. Pace dan Mace-nya hanya bisa menganggukkan kepala, tanda patuh terhadap adat yang telah ditetapkan nenek moyang terdahulu.

"Kaka," Maria memanggil Martin sambil terisak, "sa akan menikah. Sa takut. Kaka, bantu sa."

Ia membayangkan tubuh para lelaki itu. Sekali lagi, sungguh tak sanggup. Upacara pernikahan suku 'Marind-Anim' sudah tentu harus dijalaninya. Sudah menjadi hukum adat, setiap wanita yang akan menikah, terlebih dahulu harus dikawin oleh sepuluh orang pria. Upacara ini bertujuan untuk meningkatkan kesuburan wanita. Jika Maria menikah, ia akan tinggal serumah dengan keluarga prianya, yang dihuni beberapa kepala keluarga.

"Kaka, sa tra mo! Bantu sa, Kaka!"

Benar, tak ada kalimat lain lagi selain itu. Itu dan hanya itu yang mampu ia ucapkan.

Terlalu banyak bahasa yang tak mampu ia bahasakan. Baginya, air mata bukan lagi bercerita tentang kesedihan. Lebih dari itu. Ia menjelma jadi sebuah ucapan selamat atas hal yang Maria takutkan. Ditatapnya wajah langit. Biru. Rupanya ia t'lah lupa kalau langit itu akan tetap biru, walau pada kenyataannya langit tak hanya memiliki warna biru.

Ia hanya perlu menangis, semampunya. Bukankah hanya itu yang bisa ia lakukan?

Berulang kali hal itu dikatakannya pada Martin. Martin hanya melirik ikan-ikan yang menggelepar di atas pasir. Adakah jiwanya berkecamuk? Ia hanya sedikit berujar.

Benarkah hanya itu yang Martin ucapkan? Menyaratkan Maria untuk menunggunya di sebuah bukit. Di sanakah keajaiban itu akan terjadi? Rupanya Maria tak semahir itu untuk menerka isi kepala Martin.

Tetapi, lihatlah! Mata Maria terlihat menyimpan selembar harapan. Mungkin harapan itu hanya seukuran daun kelor, atau lebih kecil lagi. Entah!

Selangkah, dua langkah, ia pergi ke sebuah bukit. Dipandanginya lagi Martin, yang berjalan dengan memegang tombak. Entah apa yang akan dilakukan Martin nanti, itu membuatnya sedikit menyunggingkan senyuman.

Kini, pandangannya tertuju pada lautan yang berombak damai. Segerombolan ikan bercahaya begitu pandai mengalihkan pandangannya. Mereka saling berkejaran. Berlabuh di satu titik. Seperti mendekap suatu benda. Entah.

Ingatannya kembali melesat pada sebuah nama, Martin. Apakah ia akan membiarkan selaput daranya bernasib sama, seperti saudara-saudara wanitanya yang lain?


LH, 18 Januari 2015

==========================================

M A R T I N
Aris Rahman Purnama Putra


Gerombolan ikan-ikan itu terus berenang. Bersembunyi di antara koral dan karang. Dengan mata bak elang yang menerawang mangsa dalam remang, Martin kemudian menghunjamkan tombaknya—membelah air—hingga ujungnya yang begitu runcing menembus tubuh ikan kecil itu. Dalam sekejap saja, ia telah berhasil membuat puluhan ikan menggelepar. Begitu mudah dan sangat mudah seperti biasanya.

Namun ada satu hal yang selalu membuatnya penasaran setiap kali ia berburu: Mengapa ikan-ikan itu selalu bergerombol di karang ini? Apakah saudara-saudara mereka yang lain tak pernah mengabarkan perihal kematian yang dialami oleh ribuan saudara-saudara mereka di tempat ini?

Tidakkah lebih baik mereka berlari sejauh mungkin? Berenang menuju samudera yang lebih luas sehingga mereka akan selamat dari tombak-tombak yang siap merenggut nyawa mereka. Tidakkah dunia ini begitu luas sehingga sayang sekali untuk dihabiskan hanya untuk sekadar berputar-putar di sekitar karang seperti laron yang terus berputar-putar di lentera hingga ajal menghajar?

Kini, Martin membayangkan dirinya seperti ikan kecil yang tak berdaya dan hanya terus berputar-putar hingga akhirnya menggelepar.

"Kaka," Maria memanggil Martin sambil terisak. "Sa akan menikah. Sa takut. Kaka, bantu sa."

Teriakan itu memecah lamunannya. Dilihatnya wajah Maria, begitu muram dinaungi awan kesedihan. Kemudian Martin memeluknya.

"Kaka, sa tra mo! Bantu sa, Kaka!"

Martin hanya senyap. Hatinya kalap. Sudah lama ia menanggung benci terhadap para tetua. Kini, api dendam itu semakin berkobar dalam hatinya, seperti hendak melahap. Betapa mata adik yang begitu dicintainya kini sembap.

Beberapa bulan yang lalu, banyak saudara wanitanya mati mendadak dengan selangkangan bengkak. Menurut salah seorang antropolog yang pernah berkunjung ke kampungnya; kematian itu disebabkan oleh penyakit kelamin akibat ritual yang mereka lakukan. Berkali-kali ia mengingatkan hal tersebut kepada para tetua tapi tidak pernah digubris.

Mungkin dema akan memurkainya karena telah menentang adat. Namun ia tak akan membiarkan adik kesayangannya akan mati mengenaskan.

Ia mengangguk kemudian menjawab pertanyaan adiknya.

“Sudah, hapus ko pu air mata! Cepat larilah ka bukit! Tunggu kaka di sana, nanti ko akan kususul.”

Martin kembali memandang ikan-ikan yang menggelepar, tombak yang tergeletak di sampingnya segera ia sambar.

***

Tak banyak kata-kata yang mengucur dari mulutnya. Karena baginya, kata-kata tak akan banyak mengubah apa-apa. Ia menombak semua tetua yang ditemuinya, membabi buta. Darah muncrat, tombaknya terus menarikan tarian kematian diiringi mantra-mantra laknat. Darahnya mendidih hebat. Tak pernah dirasakan adrenalinnya begitu bergejolak seperti ini. Satu, dua, tiga. Para tetua itu mulai berjatuhan seperti ikan-ikan yang sekarat. Martin tak merasa dirinya kini menjelma sebagai keparat, justru sebaliknya; ia merasa seperti seorang juru selamat.

Semua penduduk terlihat begitu marah, mereka segera masuk honai mengambil tombak dan panah. Puluhan anak panah dan tombak itu kemudian melesat menerjang tubuhnya. Langkahnya gontai, matanya semakin gelap hingga tubuh lemasnya jatuh dengan puluhan tombak dan anak panah yang menancap.

Semua penduduk kemudian membawa jasadnya. Melemparkannya ke lautan hingga ikan-ikan bercahaya itu segera muncul ke permukaan, menangkap jasad yang tak berdaya itu. Para penduduk heran.

“Itu dema?”

Ikan-ikan itu mendekap jasadnya. Mengantarkannya menuju samudra lepas yang begitu luas, bersama ombak yang mengempas.


Surabaya, 18 Januari 2015

*Glosarium dan Rujukan:
Van Baal artikan dema itu sebagai beings yang hidup pada jaman mitis, biasanya mengambil rupa manusia, kadang-kadang juga dalam rupa satwa yang menjadi leluhur klen dan subklen, diasosiasikan dengan totem, dan seringkali juga pencipta totem (van Baal, Dema, 179)

Mengenai data penduduk yang berasal dari J. Van Baal (1966) dan J.C.B Koopmans (1954) menunjuk tahun-tahun 1953 dengan jumlah masing-masing : 8734 jiwa, 8631 jiwa, 7333 iwa dan 7618 jiwa. Dalam tiga periode yan disebut pertama jumlah orang Marind-Anim tampak semakin menurun, tetapi periode data tahun 1953 tampak meningkat dibandingkan tahun 1948. Gejala penurunan jumlah penduduk disebabkan oleh faktor kesehatan dan penyakit. Wabah penyakit yang sering berjangkit, menyebabkan angka kematian yang tinggi. Termasuk penyakit kelamin yang dibawa oleh pemburu burung cendrawasih, dan para militer yang sampai kepedalaman. Penyakit kelamin berkembang dengan cepat karena adanya upacara seksual.
Dalam peristiwa perkawinan suku Marind-Anim, biasanya calon pengantin perempuan harus berhubungan seks terlebih dahulu dengan sepuluh laki-laki dari kerabat sebelum diserahkan kepada calon suaminya. Hal ini dikaitkan dengan konsep kesuburan, yaitu harus diberikan “cairan sperma” agar wanita tersebut subur (Overweel, 1993:15)

Rumah Honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang (wikipedia)
http://basyarul-aziz-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-95860-Analisis%20Kajian%20Penulisan%20Etnografi-Kajian%20positivistik%20Suku%20Bangsa%20Marind%20Anim.html
http://www.academia.edu/8377690/SIFILIS_STADIUM_I_Fatimah_Syakirah
http://suku-dunia.blogspot.com/2014/12/sejarah-suku-marind-anim.html

Sa: saya
De: dia
Tra/tara: tidak
Mo: mau
Mace: Mama
Pace: Ayah
Pu: punya
Ka: ke

Terinspirasi dari FF; ChocoVanila - Elegi Kesunyian

Friday, January 30, 2015

11 Cerita dalam Sekotak Paradoks






PESTA KEMBANG API.
Langit bocor, bidadari ramai berjatuhan menuju Bumi.

LARIS MANIS.
Berjualan payung di Padang Mahsyar, pedagang itu mendapat keuntungan yang besar.

MULUTMU HARIMAUMU.
Sudah lama tak menggosip, harimau itu merasa kelaparan dan menelan bulat-bulat kepalanya.

AKHIR ZAMAN.
Manusia ramai-ramai menghina Tuhan. Hingga kemudian Tuhan menjatuhkan sebutir debu. Semesta meledak dan kemudian senyap.

BUAYA BERISIK.
Aku mengambil sebilah pisau lalu memotong lidahnya sebagai pengganti shampoo.

PROMO TAHUN BARU.
Dijual: Hati bekas beserta satu set kenangan di dalamnya.

HEADLINE.
Puluhan debtcollector masih mengejarnya di alam barzah. Ia memutuskan untuk bunuh diri lagi.

TINGGI HATI.
Wanita itu mendadak kejang-kejang, kabarnya dia memiliki phobia ketinggian.

WISUDA.
4 tahun sukses menjadi mayat. Ia kini dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude dan memutuskan untuk hidup lagi.

PERCOBAAN LABORATORIUM.
Melihat air dan minyak yang tidak bisa bersatu. Dia sedih teringat masa lalu. Dulu jasadnya tidak dapat menyatu dengan tanah, hingga akhirnya sanak saudaranya memotong-motong tubuhnya dan menjualnya ke sebuah restoran.

RACUN SERANGGA.
Cemas menunggu hari akhir, kepalanya pening digerogoti oleh belatung yang ada di dalam tanah.

Hingga akhirnya dia memutuskan untuk meminum racun serangga.

"Ah lega...," pikirnya melihat belatung itu telah menghilang.

Sekejap kemudian belatung itu muncul kembali dan mulai menggerogoti habis tubuhnya.

Bulan Madu Pertama



Di dunia ini, tak ada sesuatu kenikmatan yang paling nikmat selain menghirup sejuknya udara pegunungan. Dengan siraman cahaya bulan yang berpadu dengan penerangan seadanya dari kunang-kunang yang beterbangan, juga nyanyian dari jangkrik yang terus mengerik menambah hikmat sunyinya suasana malam. Pepohonan yang berjajar rapi, seolah memberi namaskara kepada setiap sujana yang melintas di depannya.

Sedang dua pasangan itu tetap membeku, saling bertatapan di balik semak belukar yang menjalar. Mata mereka saling menyelisik tubuh satu sama lain penuh dengan berahi. Wajah sang wanita terus saja memancarkan kegairahan yang tak terkira. Maklum saja, meskipun pernikahan mereka sudah berjalan selama dua tahun, sangat jarang sekali bagi mereka berdua untuk dapat menghabiskan waktu bersama layaknya seorang pengantin pada umumnya.

Terakhir kali wanita tersebut meminta kepada sang pria untuk melakukan hubungan suami-istri. wanita itu malah mendapat hadiah sebuah tendangan dan sebuah pukulan yang mendarat telak di perutnya.

“Bodoh!!! Siapa yang mau bercinta dengan wanita cacat sepertimu?” lalu beberapa pukulan menghunjam tanpa ampun.

Namun siapa yang menyangka kalau kini pria tersebut telah berubah pikiran?,

Wanita tersebut sangat telaten melepaskan helai per helai pakaian yang dikenakan oleh suaminya. Akhirnya apa yang selama ini diidam-idamkannya bisa terwujud, yaitu bisa melayani suaminya dengan baik.

Senyum mengembang jelas dari wajah sang pria. Maka tanpa ragu, sang wanita juga melepaskan setiap helai pakaian yang menempel di tubuhnya. Detik ini, ia tak akan pernah takut lagi mendapat sebuah tamparan atau pukulan dari suaminya. Suaminya akan selalu bersedia melayani ketika ia membutuhkan nafkah secara lahir dan batin. Tidak akan ada lagi komentar yang meluncur dari mulut sang suami perihal kecacatan tubuh dari sang wanita.

Selama dua tahun penantian, akhirnya semesta menghadirkan malam yang selama ini dinanti-nantikan oleh wanita tersebut. Maka gunung yang menjulang, semak belukar yang menjalar, dan apa saja yang berada di sekelilingnya menjadi saksi dua sejoli itu memadu kasih. Bulan madu yang sedikit terlambatm namun sama sekali tidak mengurangi kenikmatannya.

Tubuh sang pria perlahan terasa dingin. Mengetahui hal itu wanita tersebut berusaha menghangatkan tubuh sang suami dengan segala cara.

“Ah, dasar lelaki lemah” wanita tersebut tersenyum kecut.

Dan di tengah pekatnya malam, wanita tersebut terus mencoba menghangatkan tubuh suaminya yang semakin membeku. Dengan gairah yang membuncah, wanita tersebut terus menikmati kebahagiaan malam, bersama jasad dengan kepala yang hampir terlepas dari tubuhnya.

Sepasang Mata dalam Sunyi



Kota ini benar-benar terasa sunyi. Bahkan dedaunan yang jatuh sama sekali tidak sanggup mengusik kesunyiannya. Peluh yang jatuh terdengar jelas menggema di setiap sudutnya. Hening. Tiada apa pun di dunia ini yang sanggup mengalahkan keheningannya.

Maka tak heran orang-orang menyebut kota ini dengan sebutan Kota Sunyi. Kota di mana kekejaman dan kekelaman berbaur membentuk sebuah awan hitam yang menghiasi setiap inci langitnya. Setiap manusia yang tinggal di kota ini seperti telah kehilangan jiwanya, hanya sebuah raga kosong yang berjalan dengan terus meratapi pedihnya kehidupan.

Terdengar tangisan di sepanjang jalan namun tidak pernah ada satu bulir air mata pun yang dapat menetes. Mereka telah melakukan segala cara agar air mata tersebut dapat menetes untuk sekadar membasahi tanah kota mereka yang gersang, atau juga untuk membasahi pipi mereka yang kerontang. Tapi tidak setetes air mata pun berhasil keluar, hanya rintihan yang terus terdengar menambah kesenduan Kota Sunyi ini.

Seekor gagak hitam yang terbang di langit kota ini, bahkan merasa iba untuk sekadar mampir dan mencicipi daging dari jasad yang bergeletakan di atas hamparan tanahnya yang gersang. Nampaknya Tuhan berniat untuk menghapus keberadaan kota ini dari daftar ciptaan-Nya.

***

Hentakkan beberapa langkah kaki terdengar nyaring, dari lantai bawah, perlahan naik melalui anak tangga, lalu makin terasa dekat menuju tempat persembunyian mereka berdua.

“Sepertinya malaikat maut telah bersiap untuk menagih nyawa yang dipinjamkan Tuhan kepada kita.” Tangan Valtea terus menggenggam erat tangan kekasihnya—Ares. Seakan-akan tak mengizinkan malaikat maut untuk memisahkan keintiman mereka berdua.

“Tuhan tak akan membiarkan kita berpisah begitu saja.” Lalu dipeluknya tubuh Valtea yang sudah beberapa hari ini terasa menggigil.

Beredar kabar, bahwa pasukan rahasia yang membantai ribuan warga Kota Sunyi adalah pasukan yang ditugaskan oleh seseorang yang berkuasa di kota ini. Dua hari yang lalu, Sang Penguasa melakukan perjanjian dengan Kota Asing perihal penjualan segala aset kota berupa tambang minyak. Hal ini menyebabkan Kota Sunyi tak dapat lagi menghasilkan minyak sendiri sehingga harus membelinya dari Kota Lain. Karena itulah Sang Penguasa memutuskan untuk membebankan semuanya kepada warga dengan cara menaikan harga minyak.

Ribuan gelombang penolakan muncul di segala penjuru kota. Hingga akhirnya memaksa Sang Penguasa untuk menenangkan gejolak dengan menugaskan pasukan rahasia. Pasukan itu membantai dengan keji setiap warga yang memprotes kebijakannya. Ribuan warga kehilangan nyawa begitu saja. Sedang yang masih hidup, keesokan harinya setelah bangun tidur, kelopak mata mereka telah hilang secara misterius.

Kini, tibalah giliran kedua pasangan tersebut untuk merasakan kekejian dari malaikat pencabut nyawa .
Dengan tangan yang masih merekat, juga dengan cinta yang tak pernah berkarat. Bibir mereka tak henti mengucapkan doa pada Tuhan.

Perlahan permukaan pisau yang dingin mulai menyentuh mata mereka yang biru itu. Sisi tajamnya menari-nari di atasnya, hingga cairan merah kental menyiprat. Namun perasaan cinta yang besar telah membuat semuanya menjadi tidak terasa.

Hingga akhirnya segalanya berubah menjadi putih.

Meski mata mereka berdua tak lagi dapat melihat apa pun. Di benak mereka, masih terpahat jelas setiap lekuk keindahan wajah satu sama lain. Kau tahu? Dari kelopak matanya yang jatuh menggelinding, keluar cairan bening yang menetes-netes ke tanah. 

Seperti sepasang mata yang sedang menangis...

Jalan Asu




“Jangan sekali-kali pergi ke sana!”

“Memangnya kenapa, Bu?”

“Di sana banyak asu! Kamu mau digigit asu?”

Masih kuingat betul nasehat ibu, bahwa aku tidak boleh berjalan-jalan di daerah dekat taman, katanya di sana banyak asu-asu liar yang berkeliaran. Maka sejak itulah aku lebih suka menyebut jalan itu sebagai Jalan Asu. Aku membayangkan di sepanjang jalannya akan menemui asu-asu jongkok berderet, mengaing-ngaing sahut-menyahut, berak dan kencing di sembarang tempat. Di temboknya akan terlihat tulisan: ‘Hanya asu yang kencing di sini!’

Huekkk…! 

Asu-asu itu memang jorok, kotor, menjijikkan, bikin mual, pengen muntah.

Apalagi bulan ini merupakan musim kawin bagi kaum asu. Aku pernah lihat di televisi, kalau asu yang sedang berahi akan lebih ganas, jika kauganggu, mereka tak akan segan-segan menggigitmu, melumat kakimu serupa lollipop aneka rasa.

Krenyesss… Krenyesss… Krenyesss. 

Suatu hari aku pernah bertanya; seperti apakah Jalan Asu itu? Di sana hanya taman sepi dengan semak belukar yang menjalar tak terurus, sedang jalanannya lengang tak dilewati seorang pun, jawab temanku. Mungkin karena sepi dan dipenuhi semak belukar itulah, akhirnya para asu memutuskan untuk menjadikannya sebagai tempat tinggal.

Ah, aku begitu penasaran, meskipun aku menghormati nasehat ibu, tapi tetap saja aku ingin ke sana untuk melihat yang sebenarnya.

Tanpa sepengetahuan ibu, aku pergi ke sana. Waktu itu jalanan begitu lengang, taman juga sepi, tak ada asu. Yang ada hanyalah sebuah mobil terparkir di sebelahnya, mobil itu terlihat berguncang-guncang. Aku menghampirinya, melihat dari balik kaca:

Sepasang asu sedang berahi, pikirku.

“Ibu?”

“Gukkk… Gukkk… Gukkk ,” jawab ibu yang berarti aku akan punya ayah kedua.


*251 Kata
Terinspirasi dari cerpen Jalan Asu - Joko Pinurbo
http://mondayflashfiction.blogspot.com/
Happy Birthday Monday Flash Fiction :D

Sunday, January 4, 2015

Fiksimini - << II >>







MALAM TAHUN BARU.

Malaikat penjaga neraka mengadakan pesta kembang api. Para pendosa menjerit.

REQUIEM BORNEO.

Langit gemerlapan seperti kembang api yang meletup. Cahayanya terpancar terang membelah angkasa. Satu per satu nyawa mulai naik meniti anak tangga menuju surga.

MALAM TAHUN BARU.

Para penduduk surga begadang menonton pesta kembang api di neraka.

A MINOR.

Dalam dirinya telah mengalir darah musik.

2 JANUARI.

Usai ditembaki oleh manusia, langit menangis.

HEADLINE SURAT KABAR

Karena prosesi ngunduh mantu yang terlalu lama, Raffi Ahmad memutuskan menggunakan Internet Download Manager.

PENJUAL PAYUNG.

Berjualan di Padang Mahsyar, ia mendapat keuntungan besar.

MUSIM HUJAN.

Buku nikah menjadi best seller.

PIL PENAMBAH USIA.

Tak ada lagi alasan untuk kita tak dapat bersatu.

TRAGEDI TAHUN BARU.

Merasa berisik, ia memotong telinganya. Masih merasa berisik, ia memenggal lehernya. Lalu seseorang datang membantunya keluar dari kebisingan. Yaitu dengan cara memencet tombol 'off' pada televisinya. Namun semuanya telah terlambat.

PROMO TAHUN BARU.

Dijual Terpisah: Hati bekas beserta satu set kenangan yang ada di dalamnya

MEMBUKA LEMBARAN BARU.

Wanita itu membakar tubuh kekasihnya, seluruh kenangan buruknya hangus menjadi abu.

Tuesday, December 30, 2014

Fiksimini - Obor dan Pesawat yang Berkelebat dalam Kepala



Pesulap yang Gagal

Pesulap itu melangkah ke panggung pertunjukan dengan begitu yakin. Betapa ia sudah sangat sering sekali melakukan atraksi ini, yaitu menjilati obor dan dibakar hidup-hidup. Seorang malaikat dengan tubuh begitu menakutkan menghampirinya.

"Cepat kau masuk!!!" Teriaknya menggelegar.

Baru selangkah ia memasuki panggung pertunjukannya, ia sudah terpanggang hingga ubun-ubunnya mendidih. Ia menjerit.

Pengendali Api

Ia adalah seorang yang begitu sakti, ia memiliki kekuatan untuk mengendalikan api. Sudah tak terhitung berapa banyak rumah yang telah dibakar karena tidak memberikan jatah preman untuknya. Tangannya seperti sebuah obor yang menjilat apapun yang ada di dekatnya. Suatu hari ia datang kembali ke sebuah rumah untuk meminta jatah.

"Mana jatahku??? Cepat berikan atau aku akan membakar rumah ini!" Di depan pintu ia berteriak seperti kesetanan.

Seorang bayi berusia 3 bulan terlihat keluar dari balik pintu.

"Ini jatahmu. Sudah berbulan-bulan aku hanya minum ini." Bayi itu menyiram tubuhnya dengan seember air tajin.

Seketika api di tubuhnya padam. Semenjak itulah dia tak bisa lagi menggunakan kekuatannya.

Doa Api yang Berkobar

"Aku berani sumpah kalau aku tidak berselingkuh dengan siapapun! Kalau tidak percaya, bakarlah aku hidup-hidup! Kalau aku masih hidup berarti aku tidak berselingkuh."

Aku menuruti permintaannya, puluhan kayu bakar telah kusiapkan. Api yang berasal dari sebuah obor lekas memberangus kayu-kayu ringkih itu hingga tercipta api yang berkobar-kobar. Aku berdoa apabila benar istriku tidak berselingkuh, semoga dia selamat.

Istriku meloncat ke dalam api, lalu menyembul kembali dalam keadaan masih hidup. Syukurlah, ia benar-benar tidak berselingkuh. Namun ada satu yang mengganjalku, kenapa pantatnya gosong?

Huru-Hara 

Obor rakyat telah beredar di neraka, para pendosa makin merasa kepanasan.

Mati Lagi

Jasad david copperfield ditemukan tewas (lagi) dihajar oleh para penumpang pesawat yang dihilangkannya itu.

Pilot Cilik 

Pesawat itu bergetar. Terbang di antara kilat-kilat yang menyambar. Menembus gumpalan awan hitam, pesawat itu kini menukik tajam menuju daratan. Pilot yang masih berusia 5 tahun itu sama sekali tak merasa gentar. Seketika pesawat itu meledak menjadi keping-keping kecil. Sang pilot masih sanggup berdiri dengan gagah.

"Ma, aku mau main lagi..."

Salah Naik

Dari atas ketinggian berpuluh-puluh meter, di bawah tebing dengan batu-batu tajam menghunus, seorang wanita masuk ke ruang pilot.


"Pak, turun sini. Saya salah naik pesawat." Sang wanita itu akhirnya terjun bebas dari pesawat.

Pesawat Kertas 

"Ardi, kamu itu sebentar lagi kan ulangan. Kok malah main terus." Ayah begitu marah melihatku sedang bermain pesawat-pesawatan kertas. Diambillah pesawat itu dari tanganku lantas dibakar oleh ayah.

Keesokan harinya, aku terbangun dan melihat berita tentang sebuah pesawat yang terbakar lalu meledak.


"Bukannya ayah lagi ke luar kota naik pesawat?"

Mati Dua Kali 

Jenazah itu begitu gemetar ketakutan melihat sang pilot yang menyetir dengan ugal-ugalan. Sepanjang perjalanan ia berdoa kepada Tuhan agar diberi keselamatan sampai tujuan. Bagaimana pun juga ia tak ingin mati dua kali.

Menjelang Persidangan

David Copperfield gusar menunggu persidangannya. Ia dituduh telah menghilangkan sebuah pesawat yang tengah terbang di angkasa. Padahal selama ini ia hanya sibuk mengobrol dengan belatung-belatung yang ada di kuburannya.

Pertemuan dengan Tuhan

Baru dua hari aku menjadi muallaf, kemarin ustadz menyuruhku untuk menemui salah seorang kyai agar aku bisa lebih memperdalam ilmu agama. Maka aku segera berangkat menuju rumah kyai tersebut dengan menaiki pesawat. Namun entah kenapa tiba-tiba di pertengahan perjalanan terjadi goncangan, pesawat mengalami mengalamu turbulensi. Ah, mungkin sebentar lagi aku akan belajar agama langsung dari Tuhan.

Aku tersenyum lalu mengucap doa mengagungkan nama Tuhan.




Friday, December 5, 2014

PROMPT #73: Pelangi di Mata Senja

gambar diambil dari vachzar.com
Pria tua itu sudah sedari tadi  duduk di sofa dan memandang ke luar jendela. Hingga riuh kegaduhan memecah lamunannya.

“Senja, kamu mau kemana?” tanya sang ayah sembari menghampiri gadis kecil tersebut.

“Aku mencium bau yang segar ayah, pasti di luar lagi turun hujan.” Anak itu terus mencoba meraba-raba dinding dan mencari pintu keluar.  

Hampir setiap hari anak semata wayangnya—Senja, sibuk bertanya-tanya tentang segala hal mengenai hujan. Bagaimana bentuknya, suasananya, warnanya, pertanyaan-pertanyaan itu terus keluar darinya, memang Senja adalah gadis kecil yang memiliki rasa penasaran yang cukup tinggi dibanding anak-anak seusianya. Dan hujan adalah salah satu hal yang begitu disukainya, ketika aromanya menyeruak masuk melalui celah-celah jendela, hidungnya akan segera membunyikan alarm yang menggerakan badannya untuk segera keluar rumah, menikmati sensasi dinginnya bulir-bulir air yang tumpah dari langit.

Senja begitu tertarik dengan hujan karena almarhumah ibunya sangat sering sekali bercerita kepadanya dan membacakan buku-buku dongeng tentang keindahan hujan. Sayangnya sekitar dua minggu yang lalu, sang ibu meninggal dalam sebuah kecelakaan. Dan cerita tentang hujan adalah satu-satunya kenangan yang ditinggalkan kepadanya.

Kini, diantarlah anak itu menuju halaman rumah oleh ayahnya. Di tengah hujan yang mericis-ricis, Senja terus menatap ke atas meski pandangannya terhalang oleh perban yang menutupi matanya.  

“Apakah kamu ingin melihat keindahan langit ketika hujan, Senja?” Mata pria tua itu tak henti memandangi ekspresi kebahagiaan dari wajah sang anak.

“Pengen banget, Yah.” Senja merajuk pada ayahnya. 

Ya, sebenarnya ini memang waktu yang tepat untuknya memberi kejutan pada anaknya, sehari yang lalu, dokter menyatakan kalau operasi Senja berhasil dan hari ini perban yang membelenggu matanya bisa lekas dilepas. Tapi pria itu masih ragu, ada perasaan bergejolak dalam hatinya antara sedih dan bahagia.

Akhirnya dengan perasaan yang campur aduk, dibukalah perban itu secara perlahan.

"Yah, ini namanya apa?" dengan penglihatan yang masih kabur, gadis tersebut memandangi langit, tangannya tak henti mencoba mengais-ngais air yang berjatuhan dari atas.

"Ini namanya hujan,” jawab ayahnya sambil terus memegangi pundak gadis tersebut.

"Wah, ternyata hujan itu indah ya, Yah." Gadis itu terus menatap kagum pada setiap bulir-bulirnya yang tumpah dari atas langit. "Seneng deh, sekarang Senja gak cuma bisa mencium baunya, tapi juga ngelihat setiap tetesnya."

Ketika ia melihat mata itu, ada perasaan haru mengambang, hingga air mata menggenang, menggetarkan setiap persendiannya, mengekang ujung bibirnya. Senyap.  

Pelangi di matamu, 
Membuatku tak pernah lelah tuk merindu.
Membuatku tak pernah lelah mendengar ceritamu.
Membuatku tak pernah lelah menunggumu.
Tapi kini, pelangi itu tak ada lagi.
Hilang ditelan badai.

"Ayah kenapa nangis...?"

Air matanya makin mengucur deras, beruntunglah tetes hujan mampu menyamarkannya, kini setiap ia memandang mata anaknya, ia akan selalu teringat kembali kenangan indah dengan istri yang begitu dicintainya—Pelangi.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Inspirasi FF dari puisi: Maya Indah
Jumlah kata: 432

MFF PROMPT #73: Pelangi


Tuesday, December 2, 2014

Fiksi Mini - Tentang Hujan dalam Kepala (2)

Ayah pernah bilang, kalau di setiap bulir hujan yang tumpah terdapat keberkahan. Hari ini aliran sungai sangat deras, mungkin ini adalah akibat dari hujan semalam yang turun cukup lama. Sedang adikku masih asyik bermain di pinggiran sungai. Aku sangat sayang sekali dengannya, maka aku ingin dia mendapat keberkahan yang melimpah.

Akhirnya aku tahu bagaimana caranya agar dia mendapat keberkahan yang melimpah tersebut.

Fiksi Mini - Tentang Hujan dalam Kepala (3)

Bersama teman-teman aku sedang bermain petak umpet di tengah guyuran hujan yang deras mendedas, mataku menjelajah di setiap penjuru sungai berharap mendapat tempat persembunyian yang ideal.

Akhirnya aku memutuskan untuk bersembunyi di balik derasnya air sungai, dengan begini aku tidak akan ketahuan.

Fiksi Mini - Tentang Hujan dalam Kepala (1)

"Hey!!! Bisakah kau menghentikan hujan ini," teriak raja pada seluruh pengawalnya.

"Paduka, kami membutuhkan sebuah bola mata sebagai persembahan untuk dapat melakukan ritual menghentikan hujan," jawab pengawal sambil tetap menjaga sikap namaskaranya.

Tak berapa lama hujan itu pun mereda.

"Kerja bagus, kalian benar-benar bisa menghentikan hujan ini," sang raja tersenyum bahagia melihat pekerjaan anak buahnya, "tapi..., kenapa seluruh dunia jadi gelap?"
 
Rumah Untuk Amaltea Blogger Template by Ipietoon Blogger Template