Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tuesday, March 3, 2015

Tarian Sari






Jika Tuhan menciptakan senja untuk para pecinta, penyair, dan untuk orang-orang melankolis. Mungkin fajar diciptakan untuk para pekerja keras, yang meski masih terkantuk-kantuk, mereka sudah terjaga sebelum mentari bersinar sempurna di ufuk. Karena fajar adalah simbol harapan akan kebangkitan hidup mereka, dari nasib buruk yang senantiasa mengutuk.  

Dan meski fajar belum merekah, saat langit masih hitam kebiru-biruan dengan mega-mega merah yang masih belum tampak menghampar di cakrawala. Sari sudah terlebih dahulu bangun, menghadap Tuhan lantas berdoa agar nasibnya bisa berubah. Tangannya menengadah mencoba menghamba, di atas sebuah sajadah dan mengenakan mukena yang kusamnya sama seperti ketakutan dalam hatinya yang mencekam. Sebuah doa sederhana teruntai melalui bibirnya yang jelita, lantunannya terdengar merdu nan indah seperti sajak-sajak yang menggugah.

Tuhan, aku berharap, kelak anakku bisa menjadi seorang yang bahagia…

Doa itu menjelma bulatan cahaya, kerlap-kerlip, berputar-putar, hingga kemudian terbang menuju surga. Sari sebenarnya tak yakin benar, apakah ia masih layak untuk memohon kepada Tuhan, mengingat dulu Tuhan begitu sering ia abaikan. Tapi kepada siapa lagi ia memohon perlindungan kalau bukan kepada Tuhan? Dan bukankah Tuhan selalu menerima taubat orang yang meminta ampunan? 

Setelah usai beribadah, ia mengemas semuanya dalam sebuah tas kecil yang terbuat dari rajutan daun pandan. Anaknya masih lelap dalam dekapan selimut lembut yang membalut tubuhnya penuh kehangatan. Mukena yang kusam, segera berganti dengan busana dodot ageng—sejenis pakaian yang kerap digunakan oleh mempelai wanita saat melakukan resepsi pernikahan dalam adat Jawa—juga terkadang dikenakan oleh para penari tradisional. Rambutnya yang terurai segera ia sanggul rapi. Dikenakannya bedak tebal, untuk menyembunyikan guratan-guratan kesedihan di wajahnya. 

Sari mulai melangkah di jalanan yang masih lengang, masih sedikit manusia yang berlalu-lalang, beberapa orang bahkan mungkin masih sibuk menggeliat di ranjang. Ia berjalan membawa sound system butut, yang suaranya seperti anjing menyalak. Juga dengan bayinya yang ada dalam gendongan. Hingga kemudian mentari muda merekah, dengan kemilau merahnya yang terpancar seluas cakrawala, terlihat begitu benderang.


***

Di sebuah sudut jalanan kota yang sunyi langkahnya terhenti. Sound system butut itu segera ia setel, suaranya meraung memperdengarkan hentakkan musik tradisional; dengan gendang yang bertalu-talu, dengan bunyi seruling yang mendayu-dayu.  Tak lama, jalanan yang pada awalnya lengang dan remang, kini telah sesak penuh kesibukan. 

Hari ini adalah hari libur nasional, banyak wisatawan asing maupun lokal berkunjung ke Kota Tua, melihat-lihat sisa masa silam yang nyaris terlupakan, atau menonton pertunjukan orang-orang yang terpinggirkan. Di sana Sari mulai berdiri di ujung jalan, berjajar bersama deretan orang lain yang juga sedang mencari sesuap makanan. Tangannya merentang, tubuhnya bergoyang, menari-nari dengan sampur merah yang diseblakkan ke kiri dan kanan. Ia mulai menari, dengan tubuh yang meliuk-liuk, mempertontonkan lekuk tubuh yang membuat orang takjub setengah kikuk. 

Sari menari, dalam mimpi ke sekian kali
Hanya ingatan yang tak hanyut, dan tak terlepaskan
Terbawa arus bermuara. 1

Tarian itu mengalir indah, dengan gerakan yang runtut, teratur, dan seirama. Seperti tak berjeda. Sari hanya terus menari karena tidak ada satu pun kepedihan yang sanggup menyelusup dalam hatinya ketika ia terus menggoyang-goyangkan badan bersamaan dengan melodi pentatonis yang khidmat. 
Menari adalah tentang membebaskan jiwa, dari segala kemunafikkan hidup yang membelenggu. 
Maka siapa pun yang sekarang melihat Sari sedang menari, akan merasakan kejujuran mengalir di tiap gerakannya, kejujuran itu dirasakan berembus bersama angin yang mengempas dari tangannya yang mengibas.

Orang-orang mulai mengerubunginya: kulit putih, kulit hitam, kulit sawo matang, semua seperti terhanyut oleh setiap gerak-geriknya yang seperti mempertontonkan melodrama kesedihan paling sendu yang ada di Bumi. 

Mereka berdecak kagum, bertepuk tangan, entah karena gerakan Sari yang begitu gemulai dan memukau mata, atau karena melodrama kepedihan hidup yang sedang dipertontonkan. Memang tak bisa dipungkiri, kalau beberapa manusia yang hidup di dunia ini, ada yang begitu gembira ketika melihat kesukaran manusia yang lain. 

Mungkin sudah takdirnya kaum proletar menjadi jongos penghibur kaum borjuis.  

Sari maju ke arah kerumunan, mengalungkan sampurnya kepada seorang pria kulit putih, pria itu maju dan menari-nari bersama Sari. Di bawah terpa kilau mentari, mereka tak ubahnya sepasang siluet yang sedang bercinta di ufuk cakrawala. Beberapa penonton yang lain sibuk memotret, berusaha mengabadikannya dengan sudut pandang paling apik. 

Beberapa recehan, uang ribuan, puluhan ribu segera dilempar. Sementara sang pria berkulit putih menyelipkan uang ratusan ribu ke dalam pakaian yang dikenakan Sari, sembari sedikit nakal menyentuh payudaranya yang kenyal. Pria itu juga mengucapkan kekagumannya, tentu dengan bahasa yang tak pernah dimengerti oleh Sari.

Musik telah usai, pertanda pertunjukan juga telah berakhir. Kerumunan orang segera berpencar, sementara Sari sibuk memunguti uang yang dilempar. Nampaknya uang yang didapat hari ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup beberapa hari ke depan. Sedang si bayi masih begitu khusyuk dalam diamnya, tidak rewel, seolah-olah mafhum tentang kondisi yang dialami ibunya.
Sari sedikit membuka pakaian atasnya, lalu membiarkan anaknya menyesap ASI yang menetes dari puting  payudaranya, membasahi kerongkongannya yang kerontang.

Sebenarnya, selama ini, Sari hanya menari tanpa pernah mengetahui nama tarian yang senantiasa ia pertontonkan, yang jelas tarian itu adalah warisan turun-temurun keluarganya, diajarkan dari generasi ke generasi hingga kemudian ibunya menurunkan padanya setiap sore di beranda rumah ketika ia masih di desa. 

Ia ingat betul gerakan ibunya yang terlihat begitu gemulai, sampur merahnya kemilau diguyur cahaya senja. Sari kecil begitu bahagia melihat tarian ibunya yang seakan menyatu dengan musik yang mengalun-alun mengambang di udara, setiap ia mencoba mengikuti gerakan ibunya, ia merasa seperti tidak ada beban yang mengekang, jiwanya bebas, terbang lalu melayang-layang, kebahagiaan itu masih begitu jelas terkenang. 

Sampai saat ini ketika Sari melihat angkasa, dilihatnya sang ibunda masih menari-nari begitu gemulai.

***

Mereka berdua duduk di kursi kayu di pinggir jalan, memandang bebukitan yang menjulang dengan tanaman dan pohon yang begitu rindang. Mentari muda muncul di antara bebukitan hijau, cahayanya pecah, semburat jingga di angkasa menyepuh dedaunan. Saat itu, kau akan melihat daratan seolah lautan madu yang membentang.

“Kamu sudah yakin dengan keputusanmu?”   

“Insya allah yakin, Bu. Sari ingin nasib keluarga kita berubah.”

“Tapi, Le… hidup di kota macam Jakarta itu berat.” 

Raut wajah ibunya terlihat cemas, dalam angannya mulai berkelebatan bayangan tentang ibukota yang ganas. Selama ini, begitu seringnya ia melihat berita-berita sumbang tentang ibukota; kasus perampokan berujung pembunuhan, pemerkosaan berujung mutilasi, dan tentunya, para pendatang yang terpaksa harus tinggal di kolong jembatan, dengan rumah semi permanen, lantas tak berapa lama, tergusur oleh Satpol PP. Banyak kelakar, tentang kekejaman ibukota yang tak ubahnya ibu tiri. 

Ibukota adalah harimau, yang jika kau tak benar-benar ahli mengendalikannya, atau tidak ada pawang yang mendampingimu. Ia akan melumat habis kepalamu, tubuhmu, kakimu. Mengunyahmu seperti sosis ayam tepung. 

 “Sari siap Bu menerima konsekuensinya. Lagian Sari ‘kan sudah dewasa. Sudah bisa jaga diri sendiri. Di sana kan Sari juga bisa nginap di rumah Lek Pamuji.” 

Meskipun Sari sebenarnya juga tak benar-benar yakin dengan apa yang dikatakannya sendiri, dalam hatinya terbersit sedikit keraguan yang kemudian segera ia tepis, bagaimanapun juga ia ingin memperbaiki nasib, dan salah satu jalan pintasnya adalah dengan bergelut mengadu nasib di ibukota.

“Ya sudah kalau begitu, Ibu hanya bisa mendoakanmu dari jauh. Semoga Gusti Allah selalu menjagamu ya, Le.” 

Dipandanginya wajah anaknya sekali lagi, ada banyak hal sebenarnya yang mengganjal di benaknya hingga kemudian ia benar-benar melepas kepergian anaknya tersebut.

“Kamu sudah bawa perlengkapan narinya ‘kan?” 

“Sudah, Bu.”  

“Meskipun sedang di kota orang, kamu harus tetap menari, Le. Karena itu warisan leluhur kita yang harus kamu tetap jaga.” 

Inggih, Bu.”

Kemudian bus yang ditunggu-tunggunya pun melintas dan berhenti di depannya, keharuan pun pecah di antara keduanya. Mereka berpelukan, lalu saling melambaikan tangan. Sari mulai naik ke atas bus, dengan menenteng tas berisi beberapa pakaian dan perlengkapan tari, dilihatnya sosok ibu dari balik jendela yang lambat laun mengecil, hingga kemudian menjadi noktah yang lenyap dari kejauhan. 
Perjalanan itu memakan waktu berhari-hari hingga kemudian ia sampai di Terminal Tanah Abang. Hanya berbekal sebuah alamat yang ia tulis dalam selembar kertas, ia mulai berkeliling mencari rumah Leknya. 

***

Senja telah lenyap dari pelupuk mata, berganti dengan purnama yang menggantung bersama jutaan gemerlap lampu yang berkeredap seperti kunang-kunang yang menghampar di langit.  Ia telah sampai pada alamat seperti yang tertera pada kertas yang dibawanya, tapi tak dilihatnya satu rumah pun berdiri di sana. Tempat itu kosong melompong, reruntuhan rumah berserakan, seolah kota penuh dosa yang hendak dimusnahkan. Sari menatap heran, lalu bertanya pada orang yang ada di sekitar. 

“Dulu memang pernah ada perkampungan kumuh di sini, lalu digusur oleh pemerintah karena dianggap menganggu keindahan tata kota,” kata seseorang yang ditemuinya. 

Begitulah pada akhirnya Sari memutuskan untuk terus berjalan, lantas tidur di bawah jembatan layang dengan alas berupa koran, beruntunglah ia masih membawa selimut untuk mendekap tubuhnya dari rasa menggigil yang mulai menjalar. 

Tapi saat itu, ia tidak benar-benar bisa tidur, matanya masih setengah membuka memandang siaga. Ia takut. Tapi bukanlah temaram yang memicu rasa takutnya itu menyeruak, melainkan geraman-geraman makhluk kasat mata yang sedang berahi yang menatap tubuhnya yang begitu sintal penuh nafsu. 

Ia gemetar melihat beberapa pria bertato mulai mendekatinya sambil menelan liurnya berkali-kali. Kemudian Sari segera berjingkat hendak melarikan diri dari terkaman pria pesakitan dengan libido yang membuncah tersebut.  Tapi, hanya beberapa langkah, pria bertato itu sanggup mencengkeram tangan Sari, dirasakannya cengkeraman itu begitu kuat, seperti cakar-cakar harimau yang hendak melumat habis mangsanya. 

Ibukota adalah harimau…

Kata-kata itu kembali melayang-layang dalam semesta pikirannya, entah ia mendengar kata-kata itu darimana, karena selama hidupnya, sudah terlalu banyak kata-kata yang didengarkannya. Sari kini hanya pasrah tubuhnya dikoyak membabi-buta oleh para pria pesakitan yang kesepian. Setelah puas menyesap rasa manis tubuh Sari, pria-pria tersebut berlalu tanpa perasaan belas kasih sedikit pun. Persetubuhan yang pada akhirnya meninggalkan jejak dosa dalam rahimnya. Sari merintih dalam kesunyian, sebuah rintihan yang begitu lirih terdengar dalam keheningan yang purna. 

Matanya sembap, malam itu, Sari ingin sekali pulang lagi ke kampungnya. Tapi tak mungkin ia kembali dalam keadaan seperti ini, maka Sari memutuskan untuk membelah jalanan kota yang senyap, tanpa pernah tahu akan pergi ke mana.         

Setelah berapa jauh ia melangkah, malam itu Sari bertemu dengan salah seorang janda sebatang kara yang memiliki usaha warung kopi, karena merasa iba, Sari akhirnya diijinkan untuk tinggal bersamanya. Dua orang itu hidup bersama, pagi hingga sore Sari akan pergi ke Kota Tua untuk menari, sedang sore hingga malamnya ia akan membantu si Janda di warung kopi. Nasib mereka tak jauh beda, itulah yang menyebabkan mereka berdua akhirnya bisa saling akrab berbagi kegetiran hidup.

Sembilan bulan kemudian, bayi dalam rahim Sari lahir. Seorang bayi perempuan yang begitu anggun dan jelita, kelahiran yang seperti setetes berkah yang luruh bersama hujan kepedihan yang begitu lebat menderanya. Bayi itu dibesarkan oleh dua ibu penuh kasih sayang, sehingga hampir tak pernah dirasakannya kelaparan atau kehausan. Beberapa minggu ini, Sari bertekad untuk mencari uang lebih giat, dan membawa bayi tersebut untuk bertemu dengan neneknya, meskipun ia juga takut neneknya tidak akan menerimanya.  

***

Hujan yang mengguyur tiba-tiba memaksa Sari untuk sementara berteduh dan menghentikan pertunjukannya.  Ia  mengeluarkan uang yang telah dikumpulkannya, dan mulai menghitungnya satu per satu. Matanya berbinar melihat uang yang dikumpulkannya sudah cukup untuk ongkos dia dan anaknya untuk pulang kampung, Sari merasa ingin sekali menuntaskan rasa rindu terhadap ibunya. Esok pagi-pagi sekali, Sari berniat akan pulang kampung dengan membawa serta anaknya. 

Sari menengadah menatap langit Jakarta, manatap nanar hujan yang mericik-ricik berjatuhan,   gumpalan awan-gemawan terlihat berarak  membentuk figur seorang wanita tua yang sedang menari-nari begitu gemulai, lalu  pelangi merekah seperti mengguratkan sebuah senyuman. 

Ia tak pernah menyadari, bahwa selama ini ibundanya selalu menatap bangga dirinya yang sedang menari setiap hari, dari atas surga.  

Surabaya, 11 Februari 2015

Cerpen terinspirasi dari lagu Frau berjudul Tarian Sari
1) Dikutip dari lirik lagu Frau – Tarian Sari

Saturday, July 26, 2014

Diorama Senja Di Tanah Surga

Senja yang biasanya memancarkan cahaya indah berwarna jingga, kini berubah menjadi senja berwarna kelabu. Tidak, pada kenyataannya, hampir setiap hari memang senja disini berwarna kelabu, kami tidak pernah mengerti bagaimana keindahan senja sesungguhnya, kecuali dari buku-buku bacaan yang diberikan oleh para relawan dari luar negeri.

Kepulan asap-asap membumbung di seluruh penjuru kota, reruntuhan bangunan berserakan tak ubahnya seperti daun-daun yang berguguran dari batang pohon. Suara tangis pun sudah biasa sekali terdengar, tak ubahnya seperti suara jangkrik yang rutin biasa kalian dengar setiap malam hari. Rasa takut itu selalu hadir, di setiap aktivitas yang kami akan lakukan, selalu diliputi rasa takut. Entah oleh sebuah bom yang tiba-tiba dijatuhkan oleh beberapa pesawat, roket yang meluncur yang menghajar tanpa ampun, atau oleh pasukan angkatan darat, yang membawa senapan canggih, yang ribuan pelurunya menghujani apapun yang ada di depannya tanpa pandang bulu. 

“Kak, kenapa sih mereka selalu nyerang kita? kita kan gak salah apa-apa kak”

“Kakak gak tahu juga apa alasan sebenernya mereka melakukan semuanya ini Syifa. Mungkin hati mereka belum di buka kan pintu-pintu hidayah sama Allah.  Pokoknya kamu tidak boleh membenci mereka ya Syifa, benci perbuatannya boleh, tapi jangan membenci orangnya, agamanya, dan yang lainnya. Mereka sebenernya gak tahu apa yang sedang mereka perbuat, mereka hanyalah orang yang sesungguhnya diperbudak oleh rasa dendam yang tak berkesudahan.”

“Oh begitu ya kak.”

“Iya Syifa, dan satu lagi, kamu ingat apa yang pernah dikatakan Ibu, kamu juga gak boleh dendam apalagi sampai ingin membunuh merea, tidak semua orang yang beragama selain kita itu orang jahat, dan juga tidak semua orang yang berasal dari negara selain kita juga orang yang jahat. Seperti koloni semut, kita hanya menggigit kalau kita atau saudara kita diinjak. Dan di dunia ini masih banyak kok orang yang baik”

“Iya sih kak, tapi Syifa kan jadi kesel, gak bisa lihat mataharinya tenggelam karena ketutupan asap”

“Tenang Syifa. Sebentar lagi kita akan bisa melihat senja yang indah seperti di buku bergambar yang kamu bawa itu”

Begitulah sebuah percakapan sederhana antara aku dan adikku, yang sekaligus mengiringi terbenamnya matahari senja di kota kelabu ini. Sebuah pertanyaan sederhana terlontar dari jiwa yang masih belum tahu apa-apa tentang dunia. Ya, ia tidak tahu apa-apa, yang ia tahu hanyalah tiap malam dia terpaksa terbangun oleh suara ledakan, entah oleh roket dari pihak Hamas atau dari Tentara Israel. Entahlah, yang ia tahu hanyalah setiap pagi, sekolahnya selalu berakhir lebih cepat ketika terlihat kepulan asap, atau bangunan di sekitar sekolah mulai rubuh terkena bom yang jatuh dari atas langit.

Adikku bernama Syifa. Umurnya sekarang sekitar 4 tahun. Ia bersekolah di sebuah di Taman Pendidikan yang baru 4 tahun lalu resmi didirikan yang merupakan bantuan dari PBB. Meskipun dengan segala keterbatasan yang ada, ia tetap bersemangat dalam belajar, dan meski dalam segala kekurangan yang ada, ia tetap berani bermimpi, sebuah mimpi yang sederhana… sebuah mimpi yang sangat sederhana. Ia hanya ingin melihat senja yang indah, seperti yang ia lihat di buku cerita bergambar yang selalu ia bawa kemana-mana. Buku itu ia dapat dari seorang relawan asal Indonesia yang waktu itu membagikan buku-buku pada semua anak-anak yang ada disini. Sebuah buku cerita bergambar berjudul DIORAMA SENJA DI TANAH SURGA.

“Allahuakbar…Allahuakbar…”

Suara adzan terdengar berkumandang dari sebuah masjid yang ada di dekat bangunan tua tempat kami duduk. Kami berbuka puasa dengan sepotong roti dan secangkir teh hangat yang kami dapatkan secara gratis dari masjid.

“Ayo Syifa, makan yang banyak, soalnya nanti malem kita mau pergi jauh, nyusul ibu”

“Wah kita mau nyusul ibu ya kak, oke Syifa bakalan banyak makannya”

Ia pun memakan makanannya dengan lahap. Namun, ia tak pernah tahu, kalau Ibunya sudah setahun lalu meninggal. Ibu kami adalah seorang Dokter dan bekerja di sebuah rumah sakit sederhana di Gaza City, beliau meninggal setelah terkena hantaman roket Israel saat beliau sedang praktek. Dan aku sampai saat ini hanya mengatakan pada adikku, kalau Ibu hanya pergi ke rumah kerabatnya di Mesir.

Setelah berbuka, kami pun segera mengambil wudlu, lalu Sholat Maghrib dan Sholat Isya’ di masjid tersebut. Sesaat sebelum Sholat Tarawih, kami bergegas untuk keluar masjid dan pulang ke rumah untuk mengambil barang-barang yang akan kami bawa untuk bepergian jauh. Keluar dari kota dan negara ini.

Ayahku, dan 3 paman kami yang lainnya, telah membuat sebuah rencana agar bisa keluar dari Palestina dan menuju Mesir malam ini juga. Paman telah menyiapkan sebuah mobil di daerah Deir Al-Balah untuk kami gunakan menuju Rafah, tapi kami harus terlebih dahulu melewati pos penjagaan Tentara Israel yang ada di perbatasan Gaza. Namun baru saja, ayah kami mendapat kabar, kalau sekitar pukul 19.00-20.00. Tentara Israel akan melonggarkan penjagaannya diperbatasan, menghentikan serangannya ke daerah Gaza untuk menghormati umat Muslim yang sedang melaksanakan ibadah Sholat Tarawih. Lalu ayah kami juga mendapat kabar, tentang Pemerintah Mesir yang membuka wilayahnya yang berbatasan langsung dengan Negara Palestina. Tepatnya di daerah perbatasan Rafah, untuk menerima warga Palestina yang menjadi korban dan membutuhkan perawatan khusus. Inilah salah satu kesempatan kami untuk keluar dari kota kelabu ini,  satu kesempatan agar kami bisa memandang senja yang lebih cerah dari biasanya, memandang senja yang lebih indah daripada biasanya, senja yang indah… seperti senja yang ada di surga. Senja yang cahayanya menyinari sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Cahayanya memantul di permukaan air nya, membuat taman bunga warna-warni yang ada di sampingnya terlihat bersinar. Sebuah Diorama Senja, Di Tanah Surga.  Meskipun sebenarnya, aku tak tahu, apakah di surga terdapat senja seperti itu. Namun setidaknya di buku bergambar itu… ada.

***

Jam ditanganku sekarang sudah menunjukkan pukul 19.45

“Sial… kita hampir kehabisan waktu. Ayo cepat!!!”  kata paman Ahmad yang berada di baris paling depan. Dibelakangnya ada Paman Yusuf, lalu aku yang berlari sambil menggendong adikku, lalu Paman Ali dan yang paling belakang adalah Ayahku.

Beberapa ratus meter lagi kami akan keluar dari wilayah Gaza dan sampai di wilayah Deir Al-Balah.

“Ayo.. tinggal sedikit lagi” kataku dalam hati.


***

Sekarang pukul 20.02

Dan kami masih belum keluar dari Gaza, terlihat dari kejauhan para Tentara Israel bersiap kembali untuk melakukan patroli di wilayah perbatasan. Kami pun berhenti sejenak untuk mengatur strategi.

“Bagaimana ini, mereka sudah ada di depan, kita tidak bisa menerobosnya” kata Paman Ahmad

“Baiklah, aku akan menarik perhatian mereka, kau jaga anak-anakku dan bawa mereka dengan selamat” Ayahku menimpali perkataan Paman Ahmad

“Tapi tidak bisa begitu, kita berangkat bersama-sama, kita harus keluar bersama-sama” kata Paman Ali. Paman Yusuf pun mengangguk.

“Tapi… sudah tidak ada waktu, aku akan menyusul tenang, ini satu-satunya kesempatan” kata Ayahku

“Baiklah kalau itu maumu, tapi biarkan aku menemanimu. Biar Yusuf dan Ali yang menjaga anakmu” kata Paman Ahmad.

“Fatih, jaga adikmu baik-baik ya” kata Ayah sembari melempar sebuah senyuman manis

“Tapi yah..”

“Tenang, Ayah dan Paman Ahmad akan menyusul” Lalu Ayah dan Paman Ali menghilang diantara semak-semak yang ada disana.

Sementara aku meneruskan perjalanan bersama Paman Ali dan Paman Yusuf.

***

Pukul 20.09

Tinggal beberapa meter lagi untuk bisa keluar dari wilayah Gaza. Namun, terdengar suara rentetan tembakan dari arah belakang kami.

“Paman, kita harus kembali” kataku yang panik mendengar rentetan tembakan tadi. Sementara Syifa yang  sedari tadi terlelap tidur pun terbangun menangis.

 Lalu terlihat satu orang Pasukan Tentara Israel berhasil menyusul kami.

“Tidak bisa, kita harus cepat Fatih”

Dan Tentara tersebut pun melepaskan tembakan senapan mesinnya dari kejauhan. Sebuah peluru mengenai kaki kiriku, aku terjatuh, begitu juga dengan Syifa, lalu peluru selanjutnya mengenai lambungku. Dan seketika itu semuanya berubah menjadi sangat terang. Terlihat  sebuah cahaya yang terang, sebuah cahaya senja yang sangat indah. Lalu dibawahnya mengalir beberapa sungai-sungai, cahaya senja itu memantul di permukaannya, dan membuat taman bunga di sampingnya terlihat indah. Disana aku melihat Ibu dan Ayah sedang duduk bahagia disana.

“Fatih… Tolong jaga adikmu baik-baik ya” Kata ibuku  

“Ya, kamu harus bisa jadi laki-laki yang kuat. Ayah titip Syifa padamu Fatih”

Mereka tersenyum kearahku…

Setelah itu semuanya menjadi gelap…


***

20 tahun kemudian…

Hari ini merupakan hari yang sangat membahagiakan seumur hidupku. Adikku, Syifa, kini telah resmi lulus dari Universitas Al-Azhar Fakultas Kedokteran. Sungguh sebuah hal yang sangat membahagiakan bagiku, mengingat 20 tahun yang lalu, kami melewati peristiwa yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya. Ayah dan Paman Ahmad tak pernah kembali semenjak itu, entah bagaimana kondisinya sekarang, apakah masih hidup atau tidak, kami tidak pernah bisa memastikannya. Aku sendiri juga nyaris kehilangan nyawa, beruntung Paman Ali dan Paman Yusuf  berhasil menyelamatkanku, setelah berhasil mencapai daerah Rafah dan masuk wilayah Mesir, mereka bergegas membawaku ke rumah sakit terdekat untuk di operasi. Meskipun tertembak di daerah lambung, untung pelurunya tidak terlalu dalam sehingga masih bisa di keluarkan. Namun, kaki kananku terpaksa harus diamputasi karena peluru yang satunya lagi. Tidak apa, setidaknya aku masih bisah hidup pikirku. Setelah itu aku diberi modal oleh Paman Ali untuk membuka lapak dagangan di pasar. Dari itulah aku membiayai kuliah adikku dan makan sehari-hari. Kini kehidupan kami berangsur membaik.

“Kak kita berhenti disini yah, bentar lagi adzan, kita buka disini aja” Adikku memarkirkan mobilnya di sebuah lembah.

“Ya udah terserah kamu, kamu juga yang nyetir” Adikku pun menurunkan aku dari mobil beserta kursi rodaku.

“Kak, ingat gak waktu dulu, kita juga pernah duduk-duduk gini, nunggu buka puasa sambil mandang matahari senja diatas bangunan tua”

“Kamu masih inget aja Syifa”

Ingatanku kembali ke dua puluh tahun silam. Saat adikku masih berumur 4 tahun, kami memandang matahari senja dari atas gedung tua. Namun, senja kali ini sangat berbeda dari waktu itu. Senja yang ini lebih indah, cahaya jingganya berpendar sangat indah, memantul diatas permukaan Sungai Nil, membuat sebuah taman kecil di dekatnya terlihat indah sekali. Sebuah pemandangan yang mengagumkan. Sebuah diorama senja, di tanah surga.

***


foto merupakan editan dari potongan adegan anime 5 cm Persecond

Far... Above The Milky Way: Ledakan Supernova (END)

12 Juli 2014

     Bintang itu perlahan terlihat semakin dekat... Cahayanya yang berwarna kemerahan seakan memberi keteduhan ditengah ruang angkasa yang gelap dan hampa udara. Tubuh ini pun terasa semakin ringan, seperti buih yang terombang-ambing di laut lepas, seperti kapas yang tertiup angin dan terbang menuju ke atas, kini aku berada tepat di depan bintang berwarna kemerahan tersebut. Terus terbang mendekatinya dan mengelilinginya, mengagumi keindahannya dari jarak yang sangat dekat, hingga tiba-tiba... datang sebuah kabut hitam menutupinya, aku mencoba menyingkirkan kabut hitam itu dengan segala cara. Dan kemudian, terjadilah sebuah ledakan supernova, tubuhku terhempas sangat jauh... semakin menjauh daribintang tersebut, dan perlahan cahaya bintang tersebut meredup sampai akhirnya cahayanya benar-benar hilang.

      Entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu terbangun pada jam yang sama dan oleh mimpi yang sama.



       “Ris jadi ke Bandung hari ini?”

       “Jadilah bro, udah pesen tiket kereta juga”

       “Gile.. ya lo, kenapa gak cari cewek yang lain sih, yang deket-deket aja gitu. Lagipula ini kan juga elo udah lama gak ketemu ama dia, yakin dia masih inget ama lo? Atau bisa jadi juga dia udah punya yang lain”

       “Nah itu, makanya gua mau mastiin sendiri kesana Za”

       “Oke bro, gua doain lancar barokah dah, kalo emang jodoh gak bakal kemana kok”


     Dan aku akhirnya berangkat ke Bandung dengan menggunakan kereta dari Stasiun Wonokromo. Sepanjang perjalanan aku sama sekali tidak bisa duduk dcngan tenang, ingin rasanya segera bisa melihat wajahnya yang begitu teduh dan membuat hati menjadi nyaman. Meskipun selama ini banyak sekali wanita yang dekat denganku tapi sama sekali tidak bisa menggeser posisi Amaltea dari pikiranku. Sampai-sampai pernah ada wanita yang berkata padaku.


       “Ris, wanita-wanita disini udah banyak loh yang bilang suka ama kamu, tapi kenapa sih kamu masih mikirin cinta monyetmu itu, belum tentu juga dia inget kamu atau bisa aja dia juga udah ada yang punya. Ngapain melihat bintang yang jauh sementara ada yang lebih deket?”

       “Asti... Bagiku, tak apa memimpikan bintang yang tinggi. Asalkan sudah siap dengan rasa sakitnya jatuh dari ketinggian.  Bagiku, tak apa memimpikan bintang yang jauh. Asalkan sudah siap dengan rasa perihnya mengagumi sesuatu yang sangat jauh, yang sulit untuk kita gapai, sedangkan ia belum tentu memiliki perasaan yang sama...."

       "Bagiku, tak apa memimpikan bintang yang bersinar indah. Asalkan sudah siap dengan segala konsekuensinya, bahwa sesuatu yang indah pasti banyak juga yang menginginkan dan bahwa keinginan mendapat sesuatu yang indah juga butuh pengorbanan yang sebanding. Meskipun bintang itu kini tidak terlihat, bintang itu tak pernah menghilang, hanya pandangan kitalah yang sering kali tertutup atau terhalang oleh sesuatu, sehingga seringkali kita tidak melihat cahaya bintang itu dengan utuh. Dan aku akan sabar untuk terus berlari.. mencari tempat agar dapat melihat keindahan tersebut dengan utuh.”


      Akhirnya keretapun berhenti di Stasiun Cimahi, aku pun meneruskan perjalanan dengan naik ojek hingga akhirnya akupun sampai pada alamat yang sedang kucari.

      “Assalamualaikum...” sambil mengetuk pintu sebuah rumah yang ada dihadapanku.

      “Wa alaikumsalam.. Ada apa?” lalu keluarlah seorang laki-laki muda, dari situ aku sempat khawatir kalau-kalau itu adalah Suami dari Tea.

       “Maaf apa benar ini kediaman Bapak Ardi?”

       “Ya benar saya sendiri. Ada apa?”

       “Oh... boleh ketemu dengan Tea”

       “Tea siapa?”

       “Amaltea Tamina Khoirunnisa. Katanya dia tinggal disini”

       “Oh kak Tea.. mas belum tahu dapat kabar dari teman-temannya ya?”

       “Kabar apa?”

       “Kak Tea sudah wafat 2 minggu yang lalu. Beliau meninggal karena serangan Kanker Otak”

       “Innalillahi wa innailaihi roji’un”  dan tanpa kusadari air mata mulai mengucur deras dari mataku. Sama sekali tak dapat terbendung

       “Oh berarti mas ini namanya Aris ya? Bentar ini sebelum kakak meninggal ada titipan katanya buat Mas Aris”


     Dan akupun membuka selembar surat yang diberikan padaku:

     Ris, aku yakin banget kamu bakalan datang kesini. Kamu gimana kabarnya Ris? Sehat kan? Semoga Allah memberikan kamu umur yang panjang lagi barokah, semoga kelak kamu dipertemukan dengan jodoh yang barokah, istri solehah lagi bisa melayani kamu dengan baik. Yah, aku gagal nepatin janjiku ke ibuku buatin alat yang bisa nyembuhin kanker otak. Eh.. sekarang malah aku yang kena. Tapi gak apa deh.. aku inget nasehat kamu waktu itu. Bahwa niat baik meskipun belum terlaksana tetep udah dapet pahala. Seperti katamu dulu.. aku gak menghilang kok. Aku hanya berpindah tempat jauh diatas sana.. Jauh diatas galaksi bima sakti, berada diantara ribuan gugusan bintang yang indah. Menghiasi malam yang indah. Bersinar dengan cahayanya yang terang. Cahaya yang berwarna kemerahan 
Kamu jaga kesehatan ya Ris? :) 
Salam Hangat 
Amaltea Tamina Khoirunnisa
    
     Sebuah surat yang singkat namun sangat bermakna bagiku. Meskipun ini semua begitu cepat tapi aku bersyukur setidaknya pernah bertemu dengannya. Meski kini ia berada sangat jauh... jauh diatas galaksi bima sakti.

     Tea, aku yakin kamu juga bahagia disana. Bisa melihat indahnya dunia dari sudut pandang yang enak banget, dari atas langit bersanding dengan ribuan bintang jauh diatas galaksi bima sakti. Semoga Allah menempatkanmu di tempat yang paling indah, yaitu di surga. Menjadi ratu dari para bidadari surga. Kapan-kapan kalau Allah mengizinkan.. kita bisa ketemu disana dan kali ini aku akan bikinin kompor listrik yang lebih bagus. Gak kayak kemarin yang amburadul bentuknya. 

Kamu juga baik-baik ya disana Tea :)  

Salam Hangat   
Aris Rahman Purnama Putra
 Untukmu Amaltea Tamina Khoirunnisa (1991 - 2014)

foto merupakan editan dari potongan salah satu adegan dalam anime 5 cm Per Second

Far... Above The Milky Way: Sebuah Nebula (3)

12 Juli 2010

     Mencintaimu seperti mengagumi bintang, hanya bisa melihat dari kejauhan, hanya bisa memandang keindahan sinaran cahayanya dari jauh, tanpa pernah bisa mendekatinya, tanpa pernah bisa meraihnya, hanya bisa mengagumi.... dan mengagumi dari jauh. Hanya bisa terus mendoakan agar dia dapat terus bersinar, agar terus memancarkan keindahan yang membuat malam-malam gelap menjadi lebih indah, dan pada akhirnya aku hanya bisa terus berharap, agar terus dapat melihat keindahan tersebut tanpa terhalang gedung pencakar langit, polusi udara dan segala macam hal yang menutupi keindahan bintang tersebut. Aku hanya ingin untuk terus dapat melihat keindahan bintang tersebut dengan seutuhnya.... walaupun takkan pernah bisa meraihnya.     
     
     Hari ini sendiri merupakan hari terakhir kami berdua bisa bertemu. Setelah ini Tea sendiri akan pindah ke Bandung untuk melanjutkan studinya di Teknik Elektronika Politeknik Negeri Bandung. Sementara aku sendiri baru saja resmi dinyatakan diterima di Universitas Airlangga Surabaya Jurusan Psikologi. 


     “Ris, maafin ya kalau aku pernah buat salah sama kamu”

     “Iya, aku juga minta maaf ya kalau aku selama ini sering banget juga ngejahilin kamu”

     “Hehe... kayaknya aku bakalan kangen nih kamu jahilin lagi”

     “Dari 7621 kali ada yang bilang kayak gitu ama aku, baru kamu doang yang bener-bener manusia”

     “Lah lainnya apaan?”

     “Makhluk Ekstraterrestrial dari planet Saturnus”


     Tawa kembali terlihat dari wajahnya, mengingatkan aku pada saat pertama kali kita bertemu. Saat yang mungkin tak pernah akan kulupakan seumur hidupku.


     “Tea.. sebelum kamu pergi aku boleh gak minta alamat kamu yang di Bandung, siapa tahu aku mau main kesana” Iapun menuliskan sebuah alamat pada secarik kertas, ia lalu memberikannya padaku.

     “Tea.. cinta memang tidak harus memiliki, tapi setiap orang yang mencintai pasti mempunyai rasa ingin memiliki satu sama lain. Dan itu lumrah. Maka bersabarlah.. Kosongkan singgasana hatimu hanya untuk insan yang dipilih-Nya sebagai penggenap agamamu” sebuah kata-kata terakhir keluar begitu saja dari mulutku


     Ia hanya membalas dengan senyuman. Kemudian kamipun benar-benar berpisah dan putus kontak satu sama lain.

Ya Allah.. If I am to fall in love, let me touch the heart of someone whose heart is attached to you.

***


Far... Above The Milky Way: Mengorbit (2)

19 September 2008 

      Bintang itu tak pernah menghilang, hanya pandangan kitalah yang sering kali tertutup atau terhalang oleh sesuatu, sehingga seringkali kita tidak melihat cahaya bintang itu dengan utuh. Dan aku akan sabar untuk terus berlari.. mencari tempat agar dapat melihat keindahan tersebut dengan utuh.




     Malam ini entah kenapa tubuhku rasanya sangat lelah, sejak tadi siang tubuhku belum beristirahat sama sekali setelah terpaksa harus menemani Tea untuk mengerjakan tugas di rumahnya bersama teman-temannya. Ia mengetahui kalau aku pandai dalam hal membuat kerajinan tangan, dan ia akhirnya meminta bantuanku untuk membuat sebuah kompor dari cetakan gips untuk digunakan membuat kompor listrik. Aku membawa sebuah cetakan sederhana dari rumah dan sampai pada akhirnya aku berhasil membuat 4 buah kompor dengan cetakan gips tersebut. Disela-sela membuat kompor aku banyak bercerita dengan Tea tentang kehidupanku, keluarga dan tentang banyak hal. Begitupun Tea yang juga banyak bercerita tentang dirinya juga tentang kematian ibunya dua tahun yang lalu.


      “Yang sabar ya Tea, rasulullah juga kehilangan ibunya kok malah pas umurnya masih kecil banget”

      “Iya Ris, sebenernya tujuanku ngambil jurusan elektro itu ya.. dulu aku pernah janji ama ibuku sebelum ia meninggal, aku pengen nyiptain sebuah alat untuk nyembuhin penyakit ibuku”

      “Emang penyakit ibumu apa?”

      “Kanker Otak”

    “Sabar ya Tea, Aku yakin ibumu tidak benar-benar menghilang, ia hanya berpindah tempat. Kini ia berada jauh diatas sana.. jauh diatas galaksi bima sakti. Berada diantara ribuan gugusan bintang yang indah. Menghiasi malam yang hitam dan kelam dengan cahayanya yang indah. Sebuah cahaya indah.. berwarna kemerahan. "


     Suasana seketika berubah menjadi hening, tak pernah kusangka dibalik topeng ketegaran dan keceriaan yang dipakainya setiap hari terdapat kesedihan yang amat sangat dibaliknya. Aku dengan teman Tea yang lain pun berusaha menghiburnya dengan berbagai cara. Kami juga sholat Maghrib dan Isya berjamaah di sebuah masjid yang ada di dekat rumahnya. Sampai akhrinya matahari mulai nampak redup dan berganti dengan cahaya bulan, aku memutuskan berpamitan padanya untuk pulang.

     Sesampainya di rumah aku memutuskan untuk langsung naik ke lantai 2 rumahku untuk berbaring dan bersantai sembari memandangi langit. Lantai 2 rumahku adalah bangunan yang belum terselesaikan: dengan dinding yang belum berdiri utuh, batu-bata yang berserakan dan juga atap yang belum dipasang. Aku biasa membawa sebuah kasur lipat untuk kugunakan berbaring di lantai atas, memandangi langit malam yang indah, melihat barisan bintang-bintang yang berjajar rapi menghiasi langit yang gelap. Namun perhatianku hanya tertuju pada sebuah bintang, bintang yang berwarna kemerahan yang terlihat terang dari bintang-bintang yang lain, bintang tersebut letaknya agak jauh dari kumpulan bintang-bintang yang lain, meski begitu ia seakan tak pernah terlihat sedih dan kehabisan tenaga untuk menghiasi langit dunia. Lalu dalam sunyinya malam, akupun teringat dengan sebuah bait dalam salah satu lagu yang pernah kudengar:

Hello, little star  Are you doing fine? 

I'm lonely as everything in birth 

Sometimes in the dark 

When I close my eyes 

I dream of you, the planet earth 


If I could fly across this night 

Faster than the speed of light 

I would spread these wings of mine 

Through the years and far away 

Far beyond the milky way 

See the shine that never blinks 
   
The shine that never fades 

(Through The Years and Far Away – A.I Miyoko)

     Hingga pada akhirnya sebelum mataku benar-benar terpejam, aku melihat wajahnya muncul di dekat bintang berwarna kemerahan tersebut.

***

Far... Above The Milky Way: Kemunculan Bintang Merah (1)

20 Juli 2008

     Cinta adalah sebuah hal yang sangat sulit dipahami, ribuan kali kita berusaha untuk memahaminya maka jutaan kali kita akan dibuat bingung olehnya. Seperti udara yang kita dapat rasakan keberadaannya, tanpa perlu menjelaskan bagaimana sebenarnya udara itu datang, bagaimana udara itu bisa kita rasakan, atau bagaimana udara itu bisa senantiasa hadir di sekeliling kita. Yang jelas udara itu terasa adanya. Semua orang juga pasti pernah merasakan getarannya, getaran yang kita rasakan ketika melihat seseorang yang spesial, sebuah getaran yang muncul begitu saja, tidak pernah bisa terjelaskan, hanya mengalir secara natural begitu saja.

     Waktu itu aku baru saja dinyatakan diterima di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan di Surabaya dan sedang mengikuti kegiatan MOS. Kami berkumpul di tengah lapangan sekolah. Suasana sangat ramai dan hiruk pikuk, tapi tidak dengan hatiku yang selalu merasa sepi dan sunyi. Sejak kecil aku selalu mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain, sehingga aku kesulitan untuk mendapatkan teman. Namun, di tengah kerumunan para siswa yang berkumpul, ada seorang wanita yang nampaknya sedari tadi melihat ke arahku, ia mengenakan seragam putih abu-abu dengan lengan dan rok yang panjang, mengenakan jilbab berwarna merah tua yang panjangnya sampai menutupi bagian dadanya. Ia tersenyum manis sambil perlahan melangkah ke arahku.

     “Mas, maaf asalnya mas dari SMP mana?”

     “Oh, SMP Negeri 30 Surabaya, kalau mbak sendiri?”

     “Kalau saya dari desa mas, dari SMP Negeri 2 Kediri”

     “ HAH SIAPA YANG DIKEBIRI MBAK???”

     “Kediri mas, bukan Kebiri”

     
     Tawa mulai terlihat di wajahnya, lalu kami berdua mulai mengobrol banyak hal, mulai dari tentang bagaimana bisa masuk ke sekolah ini, hingga suasana di sekolah yang sebelumnya. Sampai pada akhirnya aku mencoba memperkenalkan diriku.


     “Oh by the way... nama saya Aris Rahman Purnama Putra, panggilannya Aris tapi juga  biasa dipanggil Mas terutama oleh mbak-mbak yang lagi nanya alamat” kataku sambil menjulurkan tangan

      “Perkenalkan nama saya Amaltea Tamina Khoirunnisa, panggil saja Tea atau Nisa, asal jangan dipanggil Amal aja” jawabnya sambil tersenyum, namun ia tidak menyambut uluran tanganku, ia berlalu begitu saja. Dari situ aku mengerti kalau ia adalah wanita yang baik, ia sedang menjaga dirinya agar tidak disentuh oleh yang bukan mahromnya. Berusaha menjaga dirinya sebaik mungkin untuk pada akhirnya ia benar-benar seutuhnya menjadi milik suaminya kelak.


     Sejak itu aku mulai akrab dengan dia, ya selain karena aku tidak mempunyai banyak teman tapi aku juga merasa nyaman ketika berbicara dan mengobrol dengan dia, kami masuk dalam jurusan yang berbeda, tapi meskipun begitu, kami sering bertemu dan mengobrol terutama ketika jam istirahat dan pulang sekolah. Meskipun sangat dekat, tapi kami selalu mempunyai batasan-batasan dalam berinteraksi, kami tidak pernah bersentuhan ataupun duduk berduaan. Kami berdua saling mengerti dan berusaha menjaga agar tidak sampai melanggar syariat-syariat yang ada.

     Sepulang sekolah kami selalu bertemu di satu tempat yang sama yaitu Mushola yang ada di dekat sekolah untuk melaksanakan sholat dzuhur, aku sering dimintanya untuk menjadi Imam, meskipun aku sering kali menolak dan menyuruh teman ku yang lain untuk menjadi Imam. Namun, pernah suatu hari hanya ada kami berdua yang ada di Mushola tersebut, sehingga terpaksa kali ini aku yang menjadi Imam. Dengan perasaan campur aduk aku pun mulai memulai melakukan takbir. Entah kenapa sangat sulit sekali pada saat itu mencoba khusyuk. Setelah sholat selesai kami berdua saling melempar senyum pada masing-masing lalu ia beranjak pergi.


     “Ris, aku pulang dulu ya..”

     “Oh iya, hati-hati ya” jawabku


     Lalu ia pun beranjak pergi. Sementara itu aku masih duduk termenung di dalam masjid, berpikir kesana–kemari, sampai akhirnya aku menengadahkan tangan dan berdoa, sebuah doa yang terpanjang mungkin yang pernah ku ucapkan.

   “Ya Allah, sesungguhnya tahu benar aku bahwa segala macam amalan ibadah yang dilakukan harus didasari dengan niat yang mukhlis untuk mendapat ridho-Mu. Tahu benar aku bahwa ibadah tidak boleh dicampuri niat-niat lain seperti ujub, pamer dsb. Tahu benar aku bahwa ibadah yang dilakukan dengan selain niat karena mengharap balasan-Mu hukumnya adalah syirik... dan syirik adalah dosa yang tidak dapat diampuni. Namun entah kenapa... hati ini rasanya tidak sanggup menahan godaan itu ketika dia berada di belakangku. Ketika kami berdua sholat dzuhur berjama’ah, aku menjadi imam dan dia menjadi makmum, entah mengapa tiba-tiba  menjadi sulit sekali untuk hati, pikiran, dan anggota badan ini untuk bersinkronisasi agar bisa khusyuk dan tumakninah dalam melakukan setiap gerakan-gerakan dalam sholat, entah kenapa selalu muncul siluet berwarna hitam putih, yang selalu datang mengganggu kekhusyukan ibadahku, yaitu tentang sebuah keinginan untuk benar-benar bisa menjadi imam yang baik baginya dalam ikatan suci pernikahan. Ya Allah yang Maha Pengampun, ampunilah dosa hambamu ini, semoga hambamu bisa lebih mengendalikan perasaan ini, meskipun itu berarti harus menikam hati ini setiap detik...setiap waktu”


***
 
Rumah Untuk Amaltea Blogger Template by Ipietoon Blogger Template