Monday, February 16, 2015

Persimpangan Moral


BARU PUTUS. 

Dalam hatinya terjadi hujan badai mengerikan, semua mikrobakteri mengungsi ke kepalanya.

MENGUNGSI

"Istriku tidak bisa ngurus anak, maka izinkan calon anak-anakku mengungsi di rahimmu," tukasku kepada selingkuhanku. Satu per satu calon anakku mulai berenang menuju rahimnya.

OBAT ANTI SERANGGA

Aku memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyianku, karena sudah seharian ini mulut kekasihku tak lagi mengeluarkan berbagai macam serangga. Kemarin aku telah memaksanya meminum obat anti serangga.

PENGUNGSI

Kesal berhari-hari banjir tak surut. Para pengungsi berinisiatif mengirimkan banjir ke kota lain via instagram.

PENITIPAN KEPERAWANAN

Menjelang Hari Valentine, para wanita ramai menitipkan rahimnya di Tempat Penitipan Keperawanan. Kulihat hari ini banyak wanita berjalan-jalan dengan perut bolong. 

Wednesday, February 11, 2015

#FFRabu - Wanita yang Ingin Goyang Dribble





“Jadi mau pasang di mana, Mbak?”

“Situ kan dukun? Kok pake tanya-tanya segala, baca pikiran dong!”

“Maaf, mbak.”

“Mbak gundulmu atos! Panggil Nyonya… .”

“Baik, Nyonya.”

Nyonya Kenthir maksudmu?

“Eh, ngatain, yah?”

“Enggak kok, Mbak, eh… maksud saya Nyonya.”

“Pasang di payudara ya, Pak Dukun.”

“Wah, ini suaminya yang nyuruh ya. Mbak?”

“Mbak mbok mbak mbok…, Nyonya!”

“Iya maaf, Nyonya. Ini saya pasang pake bahan dari emas, yah Nyonya. Biar lebih tahan lama gedenya.”

“Bodoh amat, buruan!”

Ih, ini emak-emak nyerocos aja, ya. 

“Eh, ini bibirku kenapa?”

Ha-ha! Itu hukuman untuk wanita yang cerewet. Kulihat bibirnya berguncang seperti sedang goyang dribble.

100 kata

Saturday, January 31, 2015

Maria dan Martin






M A R I A
Leichten Herzens


"Pace, Mace, sa tra mo! Sa takut. Kata wanita-wanita di sana, itu sangat sakit, Pace, Mace!"

Maria berteriak. Ia menangis sambil berlari menuju tepi laut. Sedang mulutnya tetap mengunyah sirih yang sudah halus sedari tadi.

"Sa mo temui Martin. Sa mo bercerita. Pace, Mace, tra mau menolong sa. Martin pasti ada di laut itu."

Rok jerami yang dipakainya ikut berlarian ke sana ke mari, layaknya pikiran Maria.

Keputusan untuk menikahkannya memang baru diketahui Maria beberapa saat yang lalu. Maria pergi menemui saudara kembarnya, Martin. Ia tak tahu lagi harus mengatakannya pada siapa. Pace dan Mace-nya hanya bisa menganggukkan kepala, tanda patuh terhadap adat yang telah ditetapkan nenek moyang terdahulu.

"Kaka," Maria memanggil Martin sambil terisak, "sa akan menikah. Sa takut. Kaka, bantu sa."

Ia membayangkan tubuh para lelaki itu. Sekali lagi, sungguh tak sanggup. Upacara pernikahan suku 'Marind-Anim' sudah tentu harus dijalaninya. Sudah menjadi hukum adat, setiap wanita yang akan menikah, terlebih dahulu harus dikawin oleh sepuluh orang pria. Upacara ini bertujuan untuk meningkatkan kesuburan wanita. Jika Maria menikah, ia akan tinggal serumah dengan keluarga prianya, yang dihuni beberapa kepala keluarga.

"Kaka, sa tra mo! Bantu sa, Kaka!"

Benar, tak ada kalimat lain lagi selain itu. Itu dan hanya itu yang mampu ia ucapkan.

Terlalu banyak bahasa yang tak mampu ia bahasakan. Baginya, air mata bukan lagi bercerita tentang kesedihan. Lebih dari itu. Ia menjelma jadi sebuah ucapan selamat atas hal yang Maria takutkan. Ditatapnya wajah langit. Biru. Rupanya ia t'lah lupa kalau langit itu akan tetap biru, walau pada kenyataannya langit tak hanya memiliki warna biru.

Ia hanya perlu menangis, semampunya. Bukankah hanya itu yang bisa ia lakukan?

Berulang kali hal itu dikatakannya pada Martin. Martin hanya melirik ikan-ikan yang menggelepar di atas pasir. Adakah jiwanya berkecamuk? Ia hanya sedikit berujar.

Benarkah hanya itu yang Martin ucapkan? Menyaratkan Maria untuk menunggunya di sebuah bukit. Di sanakah keajaiban itu akan terjadi? Rupanya Maria tak semahir itu untuk menerka isi kepala Martin.

Tetapi, lihatlah! Mata Maria terlihat menyimpan selembar harapan. Mungkin harapan itu hanya seukuran daun kelor, atau lebih kecil lagi. Entah!

Selangkah, dua langkah, ia pergi ke sebuah bukit. Dipandanginya lagi Martin, yang berjalan dengan memegang tombak. Entah apa yang akan dilakukan Martin nanti, itu membuatnya sedikit menyunggingkan senyuman.

Kini, pandangannya tertuju pada lautan yang berombak damai. Segerombolan ikan bercahaya begitu pandai mengalihkan pandangannya. Mereka saling berkejaran. Berlabuh di satu titik. Seperti mendekap suatu benda. Entah.

Ingatannya kembali melesat pada sebuah nama, Martin. Apakah ia akan membiarkan selaput daranya bernasib sama, seperti saudara-saudara wanitanya yang lain?


LH, 18 Januari 2015

==========================================

M A R T I N
Aris Rahman Purnama Putra


Gerombolan ikan-ikan itu terus berenang. Bersembunyi di antara koral dan karang. Dengan mata bak elang yang menerawang mangsa dalam remang, Martin kemudian menghunjamkan tombaknya—membelah air—hingga ujungnya yang begitu runcing menembus tubuh ikan kecil itu. Dalam sekejap saja, ia telah berhasil membuat puluhan ikan menggelepar. Begitu mudah dan sangat mudah seperti biasanya.

Namun ada satu hal yang selalu membuatnya penasaran setiap kali ia berburu: Mengapa ikan-ikan itu selalu bergerombol di karang ini? Apakah saudara-saudara mereka yang lain tak pernah mengabarkan perihal kematian yang dialami oleh ribuan saudara-saudara mereka di tempat ini?

Tidakkah lebih baik mereka berlari sejauh mungkin? Berenang menuju samudera yang lebih luas sehingga mereka akan selamat dari tombak-tombak yang siap merenggut nyawa mereka. Tidakkah dunia ini begitu luas sehingga sayang sekali untuk dihabiskan hanya untuk sekadar berputar-putar di sekitar karang seperti laron yang terus berputar-putar di lentera hingga ajal menghajar?

Kini, Martin membayangkan dirinya seperti ikan kecil yang tak berdaya dan hanya terus berputar-putar hingga akhirnya menggelepar.

"Kaka," Maria memanggil Martin sambil terisak. "Sa akan menikah. Sa takut. Kaka, bantu sa."

Teriakan itu memecah lamunannya. Dilihatnya wajah Maria, begitu muram dinaungi awan kesedihan. Kemudian Martin memeluknya.

"Kaka, sa tra mo! Bantu sa, Kaka!"

Martin hanya senyap. Hatinya kalap. Sudah lama ia menanggung benci terhadap para tetua. Kini, api dendam itu semakin berkobar dalam hatinya, seperti hendak melahap. Betapa mata adik yang begitu dicintainya kini sembap.

Beberapa bulan yang lalu, banyak saudara wanitanya mati mendadak dengan selangkangan bengkak. Menurut salah seorang antropolog yang pernah berkunjung ke kampungnya; kematian itu disebabkan oleh penyakit kelamin akibat ritual yang mereka lakukan. Berkali-kali ia mengingatkan hal tersebut kepada para tetua tapi tidak pernah digubris.

Mungkin dema akan memurkainya karena telah menentang adat. Namun ia tak akan membiarkan adik kesayangannya akan mati mengenaskan.

Ia mengangguk kemudian menjawab pertanyaan adiknya.

“Sudah, hapus ko pu air mata! Cepat larilah ka bukit! Tunggu kaka di sana, nanti ko akan kususul.”

Martin kembali memandang ikan-ikan yang menggelepar, tombak yang tergeletak di sampingnya segera ia sambar.

***

Tak banyak kata-kata yang mengucur dari mulutnya. Karena baginya, kata-kata tak akan banyak mengubah apa-apa. Ia menombak semua tetua yang ditemuinya, membabi buta. Darah muncrat, tombaknya terus menarikan tarian kematian diiringi mantra-mantra laknat. Darahnya mendidih hebat. Tak pernah dirasakan adrenalinnya begitu bergejolak seperti ini. Satu, dua, tiga. Para tetua itu mulai berjatuhan seperti ikan-ikan yang sekarat. Martin tak merasa dirinya kini menjelma sebagai keparat, justru sebaliknya; ia merasa seperti seorang juru selamat.

Semua penduduk terlihat begitu marah, mereka segera masuk honai mengambil tombak dan panah. Puluhan anak panah dan tombak itu kemudian melesat menerjang tubuhnya. Langkahnya gontai, matanya semakin gelap hingga tubuh lemasnya jatuh dengan puluhan tombak dan anak panah yang menancap.

Semua penduduk kemudian membawa jasadnya. Melemparkannya ke lautan hingga ikan-ikan bercahaya itu segera muncul ke permukaan, menangkap jasad yang tak berdaya itu. Para penduduk heran.

“Itu dema?”

Ikan-ikan itu mendekap jasadnya. Mengantarkannya menuju samudra lepas yang begitu luas, bersama ombak yang mengempas.


Surabaya, 18 Januari 2015

*Glosarium dan Rujukan:
Van Baal artikan dema itu sebagai beings yang hidup pada jaman mitis, biasanya mengambil rupa manusia, kadang-kadang juga dalam rupa satwa yang menjadi leluhur klen dan subklen, diasosiasikan dengan totem, dan seringkali juga pencipta totem (van Baal, Dema, 179)

Mengenai data penduduk yang berasal dari J. Van Baal (1966) dan J.C.B Koopmans (1954) menunjuk tahun-tahun 1953 dengan jumlah masing-masing : 8734 jiwa, 8631 jiwa, 7333 iwa dan 7618 jiwa. Dalam tiga periode yan disebut pertama jumlah orang Marind-Anim tampak semakin menurun, tetapi periode data tahun 1953 tampak meningkat dibandingkan tahun 1948. Gejala penurunan jumlah penduduk disebabkan oleh faktor kesehatan dan penyakit. Wabah penyakit yang sering berjangkit, menyebabkan angka kematian yang tinggi. Termasuk penyakit kelamin yang dibawa oleh pemburu burung cendrawasih, dan para militer yang sampai kepedalaman. Penyakit kelamin berkembang dengan cepat karena adanya upacara seksual.
Dalam peristiwa perkawinan suku Marind-Anim, biasanya calon pengantin perempuan harus berhubungan seks terlebih dahulu dengan sepuluh laki-laki dari kerabat sebelum diserahkan kepada calon suaminya. Hal ini dikaitkan dengan konsep kesuburan, yaitu harus diberikan “cairan sperma” agar wanita tersebut subur (Overweel, 1993:15)

Rumah Honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang (wikipedia)
http://basyarul-aziz-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-95860-Analisis%20Kajian%20Penulisan%20Etnografi-Kajian%20positivistik%20Suku%20Bangsa%20Marind%20Anim.html
http://www.academia.edu/8377690/SIFILIS_STADIUM_I_Fatimah_Syakirah
http://suku-dunia.blogspot.com/2014/12/sejarah-suku-marind-anim.html

Sa: saya
De: dia
Tra/tara: tidak
Mo: mau
Mace: Mama
Pace: Ayah
Pu: punya
Ka: ke

Terinspirasi dari FF; ChocoVanila - Elegi Kesunyian

Friday, January 30, 2015

11 Cerita dalam Sekotak Paradoks






PESTA KEMBANG API.
Langit bocor, bidadari ramai berjatuhan menuju Bumi.

LARIS MANIS.
Berjualan payung di Padang Mahsyar, pedagang itu mendapat keuntungan yang besar.

MULUTMU HARIMAUMU.
Sudah lama tak menggosip, harimau itu merasa kelaparan dan menelan bulat-bulat kepalanya.

AKHIR ZAMAN.
Manusia ramai-ramai menghina Tuhan. Hingga kemudian Tuhan menjatuhkan sebutir debu. Semesta meledak dan kemudian senyap.

BUAYA BERISIK.
Aku mengambil sebilah pisau lalu memotong lidahnya sebagai pengganti shampoo.

PROMO TAHUN BARU.
Dijual: Hati bekas beserta satu set kenangan di dalamnya.

HEADLINE.
Puluhan debtcollector masih mengejarnya di alam barzah. Ia memutuskan untuk bunuh diri lagi.

TINGGI HATI.
Wanita itu mendadak kejang-kejang, kabarnya dia memiliki phobia ketinggian.

WISUDA.
4 tahun sukses menjadi mayat. Ia kini dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude dan memutuskan untuk hidup lagi.

PERCOBAAN LABORATORIUM.
Melihat air dan minyak yang tidak bisa bersatu. Dia sedih teringat masa lalu. Dulu jasadnya tidak dapat menyatu dengan tanah, hingga akhirnya sanak saudaranya memotong-motong tubuhnya dan menjualnya ke sebuah restoran.

RACUN SERANGGA.
Cemas menunggu hari akhir, kepalanya pening digerogoti oleh belatung yang ada di dalam tanah.

Hingga akhirnya dia memutuskan untuk meminum racun serangga.

"Ah lega...," pikirnya melihat belatung itu telah menghilang.

Sekejap kemudian belatung itu muncul kembali dan mulai menggerogoti habis tubuhnya.

Bulan Madu Pertama



Di dunia ini, tak ada sesuatu kenikmatan yang paling nikmat selain menghirup sejuknya udara pegunungan. Dengan siraman cahaya bulan yang berpadu dengan penerangan seadanya dari kunang-kunang yang beterbangan, juga nyanyian dari jangkrik yang terus mengerik menambah hikmat sunyinya suasana malam. Pepohonan yang berjajar rapi, seolah memberi namaskara kepada setiap sujana yang melintas di depannya.

Sedang dua pasangan itu tetap membeku, saling bertatapan di balik semak belukar yang menjalar. Mata mereka saling menyelisik tubuh satu sama lain penuh dengan berahi. Wajah sang wanita terus saja memancarkan kegairahan yang tak terkira. Maklum saja, meskipun pernikahan mereka sudah berjalan selama dua tahun, sangat jarang sekali bagi mereka berdua untuk dapat menghabiskan waktu bersama layaknya seorang pengantin pada umumnya.

Terakhir kali wanita tersebut meminta kepada sang pria untuk melakukan hubungan suami-istri. wanita itu malah mendapat hadiah sebuah tendangan dan sebuah pukulan yang mendarat telak di perutnya.

“Bodoh!!! Siapa yang mau bercinta dengan wanita cacat sepertimu?” lalu beberapa pukulan menghunjam tanpa ampun.

Namun siapa yang menyangka kalau kini pria tersebut telah berubah pikiran?,

Wanita tersebut sangat telaten melepaskan helai per helai pakaian yang dikenakan oleh suaminya. Akhirnya apa yang selama ini diidam-idamkannya bisa terwujud, yaitu bisa melayani suaminya dengan baik.

Senyum mengembang jelas dari wajah sang pria. Maka tanpa ragu, sang wanita juga melepaskan setiap helai pakaian yang menempel di tubuhnya. Detik ini, ia tak akan pernah takut lagi mendapat sebuah tamparan atau pukulan dari suaminya. Suaminya akan selalu bersedia melayani ketika ia membutuhkan nafkah secara lahir dan batin. Tidak akan ada lagi komentar yang meluncur dari mulut sang suami perihal kecacatan tubuh dari sang wanita.

Selama dua tahun penantian, akhirnya semesta menghadirkan malam yang selama ini dinanti-nantikan oleh wanita tersebut. Maka gunung yang menjulang, semak belukar yang menjalar, dan apa saja yang berada di sekelilingnya menjadi saksi dua sejoli itu memadu kasih. Bulan madu yang sedikit terlambatm namun sama sekali tidak mengurangi kenikmatannya.

Tubuh sang pria perlahan terasa dingin. Mengetahui hal itu wanita tersebut berusaha menghangatkan tubuh sang suami dengan segala cara.

“Ah, dasar lelaki lemah” wanita tersebut tersenyum kecut.

Dan di tengah pekatnya malam, wanita tersebut terus mencoba menghangatkan tubuh suaminya yang semakin membeku. Dengan gairah yang membuncah, wanita tersebut terus menikmati kebahagiaan malam, bersama jasad dengan kepala yang hampir terlepas dari tubuhnya.

Sepasang Mata dalam Sunyi



Kota ini benar-benar terasa sunyi. Bahkan dedaunan yang jatuh sama sekali tidak sanggup mengusik kesunyiannya. Peluh yang jatuh terdengar jelas menggema di setiap sudutnya. Hening. Tiada apa pun di dunia ini yang sanggup mengalahkan keheningannya.

Maka tak heran orang-orang menyebut kota ini dengan sebutan Kota Sunyi. Kota di mana kekejaman dan kekelaman berbaur membentuk sebuah awan hitam yang menghiasi setiap inci langitnya. Setiap manusia yang tinggal di kota ini seperti telah kehilangan jiwanya, hanya sebuah raga kosong yang berjalan dengan terus meratapi pedihnya kehidupan.

Terdengar tangisan di sepanjang jalan namun tidak pernah ada satu bulir air mata pun yang dapat menetes. Mereka telah melakukan segala cara agar air mata tersebut dapat menetes untuk sekadar membasahi tanah kota mereka yang gersang, atau juga untuk membasahi pipi mereka yang kerontang. Tapi tidak setetes air mata pun berhasil keluar, hanya rintihan yang terus terdengar menambah kesenduan Kota Sunyi ini.

Seekor gagak hitam yang terbang di langit kota ini, bahkan merasa iba untuk sekadar mampir dan mencicipi daging dari jasad yang bergeletakan di atas hamparan tanahnya yang gersang. Nampaknya Tuhan berniat untuk menghapus keberadaan kota ini dari daftar ciptaan-Nya.

***

Hentakkan beberapa langkah kaki terdengar nyaring, dari lantai bawah, perlahan naik melalui anak tangga, lalu makin terasa dekat menuju tempat persembunyian mereka berdua.

“Sepertinya malaikat maut telah bersiap untuk menagih nyawa yang dipinjamkan Tuhan kepada kita.” Tangan Valtea terus menggenggam erat tangan kekasihnya—Ares. Seakan-akan tak mengizinkan malaikat maut untuk memisahkan keintiman mereka berdua.

“Tuhan tak akan membiarkan kita berpisah begitu saja.” Lalu dipeluknya tubuh Valtea yang sudah beberapa hari ini terasa menggigil.

Beredar kabar, bahwa pasukan rahasia yang membantai ribuan warga Kota Sunyi adalah pasukan yang ditugaskan oleh seseorang yang berkuasa di kota ini. Dua hari yang lalu, Sang Penguasa melakukan perjanjian dengan Kota Asing perihal penjualan segala aset kota berupa tambang minyak. Hal ini menyebabkan Kota Sunyi tak dapat lagi menghasilkan minyak sendiri sehingga harus membelinya dari Kota Lain. Karena itulah Sang Penguasa memutuskan untuk membebankan semuanya kepada warga dengan cara menaikan harga minyak.

Ribuan gelombang penolakan muncul di segala penjuru kota. Hingga akhirnya memaksa Sang Penguasa untuk menenangkan gejolak dengan menugaskan pasukan rahasia. Pasukan itu membantai dengan keji setiap warga yang memprotes kebijakannya. Ribuan warga kehilangan nyawa begitu saja. Sedang yang masih hidup, keesokan harinya setelah bangun tidur, kelopak mata mereka telah hilang secara misterius.

Kini, tibalah giliran kedua pasangan tersebut untuk merasakan kekejian dari malaikat pencabut nyawa .
Dengan tangan yang masih merekat, juga dengan cinta yang tak pernah berkarat. Bibir mereka tak henti mengucapkan doa pada Tuhan.

Perlahan permukaan pisau yang dingin mulai menyentuh mata mereka yang biru itu. Sisi tajamnya menari-nari di atasnya, hingga cairan merah kental menyiprat. Namun perasaan cinta yang besar telah membuat semuanya menjadi tidak terasa.

Hingga akhirnya segalanya berubah menjadi putih.

Meski mata mereka berdua tak lagi dapat melihat apa pun. Di benak mereka, masih terpahat jelas setiap lekuk keindahan wajah satu sama lain. Kau tahu? Dari kelopak matanya yang jatuh menggelinding, keluar cairan bening yang menetes-netes ke tanah. 

Seperti sepasang mata yang sedang menangis...

Jalan Asu




“Jangan sekali-kali pergi ke sana!”

“Memangnya kenapa, Bu?”

“Di sana banyak asu! Kamu mau digigit asu?”

Masih kuingat betul nasehat ibu, bahwa aku tidak boleh berjalan-jalan di daerah dekat taman, katanya di sana banyak asu-asu liar yang berkeliaran. Maka sejak itulah aku lebih suka menyebut jalan itu sebagai Jalan Asu. Aku membayangkan di sepanjang jalannya akan menemui asu-asu jongkok berderet, mengaing-ngaing sahut-menyahut, berak dan kencing di sembarang tempat. Di temboknya akan terlihat tulisan: ‘Hanya asu yang kencing di sini!’

Huekkk…! 

Asu-asu itu memang jorok, kotor, menjijikkan, bikin mual, pengen muntah.

Apalagi bulan ini merupakan musim kawin bagi kaum asu. Aku pernah lihat di televisi, kalau asu yang sedang berahi akan lebih ganas, jika kauganggu, mereka tak akan segan-segan menggigitmu, melumat kakimu serupa lollipop aneka rasa.

Krenyesss… Krenyesss… Krenyesss. 

Suatu hari aku pernah bertanya; seperti apakah Jalan Asu itu? Di sana hanya taman sepi dengan semak belukar yang menjalar tak terurus, sedang jalanannya lengang tak dilewati seorang pun, jawab temanku. Mungkin karena sepi dan dipenuhi semak belukar itulah, akhirnya para asu memutuskan untuk menjadikannya sebagai tempat tinggal.

Ah, aku begitu penasaran, meskipun aku menghormati nasehat ibu, tapi tetap saja aku ingin ke sana untuk melihat yang sebenarnya.

Tanpa sepengetahuan ibu, aku pergi ke sana. Waktu itu jalanan begitu lengang, taman juga sepi, tak ada asu. Yang ada hanyalah sebuah mobil terparkir di sebelahnya, mobil itu terlihat berguncang-guncang. Aku menghampirinya, melihat dari balik kaca:

Sepasang asu sedang berahi, pikirku.

“Ibu?”

“Gukkk… Gukkk… Gukkk ,” jawab ibu yang berarti aku akan punya ayah kedua.


*251 Kata
Terinspirasi dari cerpen Jalan Asu - Joko Pinurbo
http://mondayflashfiction.blogspot.com/
Happy Birthday Monday Flash Fiction :D

 
Rumah Untuk Amaltea Blogger Template by Ipietoon Blogger Template