Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Wednesday, December 24, 2014

Senja dalam Secangkir Cokelat Hangat





Cinta, cinta, cinta.

Mengapa orang begitu mengidam-idamkan cinta? Tak cukupkah bagi mereka keindahan sebuah
senja? Mega merah yang terhampar seluas cakrawala. Dengan kehangatan yang begitu hangat, seperti selimut dari bulu domba.

Lantas, mengapa manusia masih merasa kurang dengan semua keindahan itu? Mengapa manusia
membutuhkan cinta? Dan mengapa Seno Gumira Ajidarma begitu seringnya menyinggung tentang
cinta?

Cinta, cinta, cinta.

Jika cinta itu berwujud senja, aku ingin memetiknya. Menjadikannya serupa bola-bola gula dan mencampurnya ke dalam secangkir cokelat hangat. Agar aku bisa merasakan setiap bulirnya menyatu dalam tubuhku. Mengalir bersama kepingan sel-sel darah. Melintasi organ-organ yang terjelaskan dalam biologi. Tapi tak 'kan pernah kuizinkan ia keluar bersama urin. Seberapa besar pun risikonya, aku ingin ia mengendap dalam tubuh, selamanya.

Cinta, cinta, cinta.

Jika ia berwujud senja, aku ingin memetiknya. Mencampurkannya ke dalam secangkir cokelat hangat. Agar otak kerdilku tak perlu repot-repot memikirkannya, tapi setiap bagian tubuhku dapat merasakan kehangatannya.

edited by Leichten Herzens

Thursday, December 4, 2014

Puisi - Tentang Kupu-kupu dalam Sunyi


aku suka kupu-kupu
tapi aku lebih mencintai ibu
keduanya tak jauh berbeda, tapi tetap tak pernah sama

dalam suasana taman yang sunyi 
kupu-kupu selalu berhasil memberi warna tersendiri
seperti ibu, yang setiap usapan tangannya meluruhkan segala kesedihan,
menghapus segala kemuraman

bunga tak akan pernah bisa hidup tanpa kupu-kupu
karena angin tak pernah benar-benar sempurna menyebarkan serbuk sarinya
hanya kupu-kupulah yang sempurna melakukannya
maka apalah jadinya taman ini kalau Tuhan tidak menciptakan kupu-kupu

kepakan sayapnya lirih
sayup-sayup hening
serasa bergeming

tapi sayap itu terus bergerak

dan ibu, terus saja mengorbankan waktu-waktunya untuk kebaikan kita
berdoa dalam hening 
meski lelah raga sudah membuat kepala pening

ketika jutaan jiwa sudah kehilangan sadarnya
ia justru telah siap menyambut turunnya Tuhan ke bumi di sepertiga malam yang akhir
doa tulus meluncur deras dari bibir lembutnya
sebuah doa yang memecah hikmat sucinya malam 
menggetarkan malaikat-malaikat yang berjaga 

"Semoga kau menjadi anak yang sholeh,"
katanya sambil terus membelai rambutku

maka setiap aku melihat kupu-kupu di tengah sunyi
aku selalu teringat tentang segala hal tentang ibu

Tuesday, December 2, 2014

Puisi - Dua Puluh Detik yang Tertahan




Hari ini kita berharap memiliki waktu lebih lama bersama
berharap semesta menahan laju waktu
mengekang gerak jarum jam sehingga tertahan tak bergerak

Masih dengan tangan kita yang saling merekat
juga dengan cinta yang tak pernah berkarat
lalu berdoa bersama agar Tuhan membuat masa terhambat

Ingatkah kau dengan kisah Ali ibn Abi Thalib?
ketika ia berniat melaksanakan sholat shubuh berjamaah
namun terlambat karena membiarkan orang tua lebih dulu lewat
ia sabar menunggu dan tak menyalip demi menunjukan rasa hormat

Di saat itulah Tuhan memerintahkan malaikatnya untuk menahan waktu mengekang laju matahari dengan sayapnya
hingga waktu shubuh tak lekas berlalu

Dua puluh detik tertahan...
air yang akan dituang mengambang
bulir keringat yang menetes terhenti di kening
juga dengan air mata yang belum sempat jatuh ke tanah

Dua puluh detik tertahan...
Tuhan masih memberikan kesempatan
untuk kita saling melepas kerinduan dan mengucap kata perpisahan

(Kampus B, 11 November 2014)
 
Rumah Untuk Amaltea Blogger Template by Ipietoon Blogger Template